Wew, hari ini penuh cerita berkat sepupu saya, si Ichonk. Karenanyalah saya bisa nyobain naik perosotan Atmostfear di Plaza fX, sekalian nonton dengan budget tidak lebih dari lima ribu rupiah ajah. Setelah saya selesai mencuci baju (saya makin ragu, saya anak apa babu? Hm..), Ichonk sms saya kalo dia punya karcis gratisan main Atmostfear di Plaza fX Senayan. Baiklah, selama modal ongkos saja, sayapun bersedia megantarnya. Eh saya baca lagi smsnya, walah.. Dia juga ngajak nonton. Dan makin ber-“Walah, walah..” ria begitu dia bilang mau bayarin saya nonton. Tancap! Mandi, ganti baju, dimodalin Ibu lima belas rebu, saya berangkat. Bahkan sisanya bisa buat posting tulisan ini. Haha! It feels just like a lucky bastard.
Sebenarnya kurang tepat juga Ichonk mengajak seseorang seperti saya untuk mencoba perosotan yang kecepatan maksimumnya sampai 25 km/jam. Wong saya naik kora-kora saja tidak berani. Beneran, saya malah sudah duduk di bangku perahu melayang tersebut, namun langsung kabur, tidak jadi berngilu-ngilu ria. Toh ga akan ada yang mengingat wajah saya. Dan memang saya tidak mengenal malu.
Begitu sampai di fX, kami langsung memantau bentuk perosotan yang akan kami turuni. Waduh, selain karena memang agak takut, ocehan Ichonk yang selalu bilang “Duh, berani ga ya gue? Deg-degan nih gue, Shel,” makin membuat saya mendadak males tanda kutip untuk mencoba menuruni Atmostfear. Tapi bangkit kembali keberanian saya saat melihat anak kecil permpuan bermata sipit bisa menaklukan tabung tersebut. Baiklah, saya bisa kok.
Alih-alih ga mau keliatan pengecut, saya pun mengajak Ichonk ke fX Platinum XXI. Berdasarkan saran saya, kami pun membeli karcis untuk menonton di studio 4, Wall-E. “14.40 ya, mba.” Saya tersenyum pada Ichonk. Untuk membunuh waktu selama satu jam, kami langsung inisiatif foto-foto. Emang beneran keren sih fX. Tiap lantainya ada kayak art-design gitu. Dan memang bukan kami saja yang norak unutk bernarsis bareng.
Kaki berteriak lelah, kami pun menuju ke XXI dan duduk sambil menguji keahlian saya, yakni menunggu. Entah kenapa kami ini mau tau saja dan sok tau sekali. Membicarakan penampilan orang-orang yang lewat di depan kami pun jadi topik pilihan. Wah, jauh beda sekali dengan saya yang hanya memakai kemeja dan tas punya Poncol. jeans diskonan, plus sepatu pinjam dari adik. Kebanyakan yang lewat juga seumuran saya, tanpa mengecek label di pundak mereka, mereka sudah terlihat ‘mahal’ sekali. Malah saya sempet nyeletuk, “Keliatan banget tajirnya, ya Chonk. Walau wajah ga berbicara. Haha.” Sadis banget. Akhirnya Ichonk nyerocos, menceritakan temannya yang ‘tajir-namun-wajah-tak-berbicara’ tapi dermawan. Karena mau-maunya ngebayarin Ichonk bersama tiga teman lainnya ke Dufan, makan, dan diantar sampai rumah pula, yang kata Ichonk setelah dihitung-hitung menghabiskan hampir setengah juta untuk seharian.
Begitu juga saat kami sudah ada di bangku penonton. Di baris depan kami ada seorang bapak bule nonton dengan 3 anaknya, yang satu laki-laki dan lainnya perermpuan. Saya yakin mereka bapak-anak karena saya mendengar anaknya yang lelaki memanggil orang tua botak tersebut dengan “Pa,...” Saya dan Ichonk langsung saling menoleh dan tersenyum bulus. “Kok ga mirip banget ya,Shel, anak sama bapak? Padahal kan bule gennya kuat biasanya.” Saya pun hanya mengangguk-angguk, “Ho-oh. Emaknya lagi di mana ya?” Saya pun mencoba berpikir kalau ibu dari tiga anak tersebut mungkin dulunya bekerja sebagai duta besar dan bertemu dengan bapak bule tersebut di negara tempat ia bekerja dan gen sang ibu lebih kuat dari gen si bapak bule, menghapus pikiran-pikiran buruk yang menghakimi keadaan anak-beranak tersebut.
“Seharusnya saya diajak membuat film ini juga.” Itulah yang ada di pikiran saya sekeluarnya dari studio. Wall-E benar-benar berhasil menyampaikan bahwa Bumi adalah tempat satu-satunya kita hidup dan kita semua harus menjaganya seperti dia sudah memberiakn seumber daya untuk kita karena untuk semua penonton, terutama untuk adik-adik kita yang memang menjadi sasaran utama film animasi ini. Yakni Bumi adalah tempat satu-satunya kita hidup dan kita semua harus menjaganya seperti dia sudah memberikan sumber daya untuk kita karena walaupun kita nantinya menemukan tempat lain, namun Bumilah tempat kita semua kembali. Tanpa banyak dialog, Wall-E mampu membuat saya dan penonton lainnya tertawa dan memahami adegan hanya dengan lagu yang dialun sepintas dan suara-suara robot yang tidak terlalu jelas namun selalu mebuat saya dan Ichonk berseru “Sumpah, lucu banget.” Dan saya harus membuat versi Indonesianya setelah saya nanti membuat film perang.
Sehabis menunggu Ichonk, kami langsung ke Atmostfear yang tak bisa saya hindari lagi karena berada tepat di depan pintu masuk XXI. Damn. Ketika saya sedang berpikir kapan saatnya mengatakan “Ayo, deh” ke Ichonk, saya yakin itulah saatnya begitu melihat seorang cowok yang melambai sedang bersiap-siap menuruni perosotan tersebut. Untungnya ada cowok itu, kalau tidak keberanian saya tidak akan timbul.
Well, begitu giliran saya, butuh tiga menit untuk meyakinkan diri untuk didorong mas-mas yang jagain. Kalau saja Ichonk tidak berteriak secempreng-cemprengnya hingga berdengung di telinga saya, mungkin tak perlu berlama-lama. Sumpah, begitu kencangnya Ichonk teriak sampai saya bisa mendengar orang di belakang saya berkata “Ya ampun,” ke orang di sebelahnya. Dan akhirnya diri ini merosot turun setelah saya berhasil membuat detak jantung saya normal.
Ternyata belum selesai penderitaan saya. Kepala saya jadi agak pusing lantaran helm yang saya pakai kegedean dan melorot dan harus menghadapi seorang mas-mas penjaga Atmostfear di lantai satu yang saya ragui dia 100% pria. Oke, tampilannya bisa mendapat rating “imut-seimut-cantengan-Bebek”, tapi cara ngomongnya itu lho... Kenapa kayak gitu??? Udah mana banyak nanya. Sesaat saya sampai di bawah, mas-mas tersebut langsung nanya “Perdana ya?”, padahal saya sedang kerepotan menyeimbangkan badan. Woy, gue lagi ribet bukannya bantuin, maen tanya-tanya ajee lu, mas. Dan abis kami ngobrol-ngobrol, ujungnya dia ngomong, “Mau main lagi ga? Ntar aku deh yang masukin. Tapi nanti aja, aku kan lagi puasa nih, belom makan. Abis buka deh. Mau ga?”. Saya dan Ichonk liat-liatan. “Kapan-kapan aja deh, mas,” kata Ichonk. “Ya udah, kalo gitu catet nomor aku aja.” ????
Kami langsung ninggalin mas-mas itu soalnya dia mesti ngebantuin orang yang baru aja selese merosot. Eh, ga taunya dia naik ke lantai 7 juga, tempat saya dan Ichonk mengambil barang yang dititip. Waduh. “Ya udah, plis save my number?” kata mas-mas itu, nyamperin kami berdua. “Kalo mau ke sini, telfon aku aja dulu, ya? Eh jangan lupa miskol ya..”. Kami ngangguk-ngangguk.
Saya : Lo simpen kontaknya apa, Chonk?”
Ichonk : Ricky perosotan.
Saya langsung ngakak. Apa kek, Ricky Atmostfear, Ricky sliding gitu? Ricky perosotan? Baiklah, tidak terlalu buruk.
Saya : Beneran ga tuh dia bisa gratisin kita?
Ichonk : Tau deh.
Saya : Gue bawa temen-temen gue aja yang banyak kalo gitu.
Ichonk : Emang niat gue gitu, bawa se-RT. Hahaha!! Mampus dah tuh si Ricky.
Saya : Jahat banget.
Ichonk : Siapa? Kita?
Saya : Elo.
Derai tawa licik kami membahana ke seluruh sudut plaza. Ya, saya tahu saya berlebihan. Tapi saya senang, walau sudah dua hari saya dianggurin laki saya. Sok unrechable dia. ;(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar