ngahah.. tersenyum nyinyir gue setelah baca blog seseorang. kocak aja, kenapa gue ga dilahirin pas masa filosof athena aja? jadi gue ga usah repot-repot ngejawab pertanyaan-pertanyaan ini dan mencoba membantu orang untuk memandang kehidupan dalam suatu perspektif baru (weits, weits). dan mungkin ini adalah tulisan gue yang paling sok tau sepanjang sejarah gue idup. jadi kalo ga setuju ya gapa-pa. liat aja dewi persik ama saepul jamil. meski berseteru di media massa, dewi persik sakit, bang ipul mau ngejenguk. jadi, suatu saat perbedaan akan menemukan titik temu walau butuh berabad-abad (ga nyambung).
kalo Tuhan itu beneran ada gimana?
yaa tergantung sama apa yang lo anut. kalo dari awal lo tau, yakin dan bisa ngebuktiin kalo Tuhan itu memang ada, yaa lo ga perlu melontarkan pertanyaan seperti itu. kenapa harus bertanya seperti itu? apa ga lebih baik kita bertanya: ‘apakah Tuhan benar-benar ada?’ sebelumnya. ‘janganlah mengambil kesimpulan terlebih dulu’. itu yang gue pelajarin dari filsafat. gue ingin menjelaskan pada dasarnya antara filosof dan manusia biasa tidak ada perbedaan. seperti kata plato, semua manusia terbagi atas tubuh, jiwa, sifat dan negara. seperti yang gue baca di dunia sophie: anggap kita semua hidup di balik bulu seekor kelinci putih yang dikeluarkan dari topi pesulap. kita semua bertambah umur. sebagian merasa begitu nyaman hidup di bulu kelinci itu dan makin melesak ke dalam. tapi sebagian lagi berusaha untuk memanjat bulu-bulu halus itu. mereka mencoba untuk menatap langsung mata si pesulap. mereka kadang jatuh, saking halusnya bulu tersebut. namun mereka tidak pernah menyerah. nah, mereka itulah para filosof. saat semua orang terbiasa dengan keadaan yang sudah ada, mereka berusaha mencari jawaban yang bermunculan di kepala mereka tentang segala kehidupan ini.
jadi kalo Tuhan itu beneran ada gimana? mungkin pertama-tama Tuhan akan memarahi gue karena pernah tidak percaya denganNya.
terus gimana dengan kefanatikan atas agama masing-masing?
kita tidak harus menjadi seorang fanatik. kalo gue pikir, fanatik itu kan yang bener-bener taat tanpa mempertanyakan kenapa dia harus ngelakuin ini-itu. dan gue bukan tipe orang yang kayak gitu. bukti hidupnya: nyokap. gue sering banget nanya “emang kenapa sih mesti kayak gitu?” kalo nyokap ga bisa jawab, gue keukeuh ga mau ngerjain apa yang dia suruh. mungkin ngerjain, tapi males, setengah-setengah. sekarang emang bukan zaman socrates, di mana agama belum bermunculan dan orang-orang percaya akan dewa-dewi dan mencari pembenaran akan keberadaan yang mereka puja tersebut. sekarang udah beda. malah satu agama bisa bercabang-cabang ajarannya. jadi semua kembali kepada lo. ga kayak dulu, sekarang semua orang punya pilhan, untuk percaya Tuhan atau tidak, menjadi fanatik atau tidak, menjadi yang makin melesak masuk ke bulu kelnci atau yang ingin memanjatinya. kayak ulangan aja, sebelum memilih kita butuh belajar. dan gue masih sedang belajar untuk apa yang nanti gue pilih.
kalo jembatan sirothol mustaqim bener-bener ada gimana?
darimana lo tau? karena semua orang yang satu keyakinan sama lo ngomong gitu? yaa gapa-pa kalo lo percaya. kan gue udah bilang di atas, kalo lo yakin sama yang lo anut, ya jalanin. kalo lo tiba-tiba ragu, cari tau sendiri apakah jembatan itu ada? kenapa ninggalin keraguan itu tanpa jawaban? kenapa lo selalu bertanya “gimana kalo itu beneran ada?”, tapi ga pernah bertanya “apakah itu bener-bener ada?” atau “bagaimana itu bisa terjadi?”. salah satu jalan adalah mulai belajar filsafat. itu kalo lo mau. orang yang paling bijaksana adalah orang yang tau dirinya tidak tau.
kalo ada putih, kenapa harus ada hitam yang menakutkan?
pertama-tama gue harus bertanya, apa yang mendasari pertanyaan lo itu? gue rasa filsafat mestinya emang udah dijadiin pelajaran dari sd. kalo kita belajar filsafat, yang tadi gue bilang, ga boleh menyimpulkan sesuatu cepat-cepat. ada baiknya lo bertanya dulu ‘apakah yang putih selalu menyenangkan, sedang yang hitam itu menakutkan?’ jangan salahkan mereka. hitam dan putih sudah sedih karena ternyata mereka tidak sekelompok dengan biru, merah, kuning, dan warna lain. mereka bukan warna. lo terpatok oleh keadaan yang sudah ada. orang-orang itu sudah meracuni lo bahwa yang putih itu menyenangkan, sedang hitam menakutkan. sama halnya seperti: seorang ibu masak di dapur. ayah nonton tv. si anak yang masih balita lagi main mobil-mobilan. tiba-tiba ayah, yang memang suka bertingkah aneh, melayang-layang di udara. si anak berteriak, “wow! ayah terbang”. sedang ibu yang melihat kejadian itu langsung pingsan di tempat. kenapa reaksi mereka berdua berbeda? itu karena anak kecil belum bisa membedakan mana yang bisa terjadi, mana yang tidak. sedang ibu sudah tahu, dan terpatok di pikirannya bahwa manusia tidak bisa terbang seperti burung. sama halnya dengan lo, terpatok akan sifat hitam-putih tadi.
kenapa Tuhan mempermainkan kita?
sama aja kalo kita lagi main robot-robotan. apakah robot tersebut bisa bergerak tanpa kita gerakan? tidak, kemudian kita mengisinya dengan batere. itu pula yang dilakukan oleh Tuhan. robot bisa bergerak, berjalan sendiri karena sudah terpasang batere di badannya. namun dia tetap tidak bisa bergerak bebas sekehenadaknya. kitalah yang memainkannya. robot itu berjalan lurus, dan bukan hal yang sulit buat kita kalo mau robot itu berbelok ke kanan, karena kita tinggal menggeser badan robot tersebut. sama halnya dengan manusia. kita ditiupkan ruh dan diberi kesempatan untuk hidup. bedanya kita tidak sekedar mesin-mesin atau kabel seperti robot, kita punya pikiran. seperti kata aristoteles, kita memiliki kemampuan untuk berpikir secara rasional, yang membedakan kita dengan binatang. di sini gue ga setuju sama spinoza yang bilang:”Tuhan bukan dalang.” sponoza menyamakan alam dengan Tuhan. “Tuhan itu segalanya, dan segalanya ada dalam diri Tuhan.” ga, ga kayak gitu buat gue. kita didalangi oleh Tuhan. itu jelas. gue pernah denger, bahkan sepucuk daun pun akan jatuh dengan seizin Tuhan. betapa jelasnya kalo hal sekecil itu saja didasari kehendak Tuhan? Tuhan dalang yang hebat dan agak egois. mengapa Dia membiarkan daun itu tumbuh kalo pada akhirnya daun itu meranggas? mengapa Dia beri kita hidup bila nantinya kita mati? sama seperti robot tadi, mengapa kita membelinya dan juga membelikan batere untuknya, kalo nanti dia akan karatan dan rusak? karena kita senang ada sesuatu yang nurut sama kita, dan tanpa cape-cape buat ngendaliinnya. maka Tuhan menciptakan banyak manusia agar dia tetap berstatus dalang. mungkin ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan setelahnya: kalo ada nyata, kenapa ada gaib? kalo ada mudah, kenapa ada susah? Tuhan mendengar pertanyaan itu.
Tuhan ada di mana?
itulah yang gue tidak bisa buktikan, karena selama ini gue menyembah yang tidak terlihat. tapi jelas Tuhan lah sang pembuat tangga alam, di mana manusia berada di posisi paling atas. maka kalo manusia berada di tangga teratas, membawahi makhluk hidup dan benda mati lainnya, berarti Tuhan melayang-layang dengan gesit di atas tangga itu. itulah yang menyebabkan Dia dapat mengatur segalanya tanpa kita bisa melihatNya. karena Dia terlalu tinggi dan cepat. atau karena kita yang terlalu rendah dan tidak dapat melihatnya dari sini? jelas Tuhan tidak mau diprotes karena itu. dan kenapa Tuhan kita sembah? gue tidak tau. mungkin itu pelarian dari kebingungan kita akan permberian kehidupan ini. kita tidak tau harus bersyukur atau malah marah diberi kehidupan. daripada pusing memikirkan keduanya, lebih baik kita sembah Tuhan saja tanpa mempertanyakan ini-itu lagi. dan gue rasa itu bukan jawaban yang logis, karena mungkin seharusnya gue membuka diri, bahwa pada dasarnya Tuhan lah yang menghidupi kita. dan st. paulus bilang, “dalam diriNya kita hidup dan bergerak dan menjadi.” karena kita hiduplah kita menyembahNya. kalo kita benda mati, kita tidak akan bisa menyembahnya. apakah selendang merah di atas lemari bisa menyembah Tuhan? sudah pasti semua orang menjawab dengan jawaban yang sama, bukan?
gimana? gue rasa seseorang belom puas sama jawaban dan penjelasan gue, karena dia masih tidak mau membebaskan pikirannya dari segala patokan yang sudah diracuni orang lain kepadanya. untuk mulai mencari tau jawaban yang lo inginkan adalah berpikir kayak anak kecil. buang patokan-patokan yang lo ketahui, tapi ga pernah sekali pun lo buktiin. tapi gue tidak ingin mendoktrin orang lain dengan pikiran-pikiran gue. karena “orang yang mengetahui benar akan bertindak benar”. yaa.. ini bukan masa orang-orang sophis di pra-socrates, jadi lagi-lagi semua kembali pada lo. kadang untuk melakukan yang kita anggap benar, kita harus melakukan banyak kesalahan. jangan goyah kalo tidak mau goyah. seperti jangan hidup kalo tidak mau berdosa.