Kamis, 27 November 2008

kalah.. ambruk gue..

matahari – it’s different class
kau matahari yang selalu bersinar di hati
kau seperti bunga yang mekar mewangi
kau matahari selalu menyinari
kau matahari selalu di hati

ernestito – sore
don’t waste your time. Though time was so kind. You would say now, will you still be mine? (Yes, I'm singing)
Don’t waste my time. Come out and be free! Look at the sunlight. You’re losing the day

You are the sunlight in my eyes. You cast the fun time in my life!
My song for you, my sweet harmonized life, for me to you, it’s why..

Life is so easy... I’m living everyday to make your name. You’d get it all in time, just claime your fame !
My heart... Good night my dear. Sing to her (him), good life for keep. Life is so easy...

fahrul.. kamu pulang dong.. saya udah ga tahan. tangis udah ga bisa saya bendung. cape saya makin numpuk, karena ga ada lagi yang bisa bikin saya senyum dan lupa sama cape pas pulang sekolah. ga ada yang nyambut saya pulang sekolah sambil tereak-tereak “kakak! kakak!” terus cium tangan saya..akh, kayaknya kamu bahkan blom tau nama saya. saya cuma takut saat kamu kembali, kamu ga inget saya. atau kamu udah ga imut lagi, pipi kamu ga bisa saya cubit-cubit lagi, tangan kamu ga bisa saya gandeng-gandeng lagi, muka ga bisa saya cium-ciumin lagi.

saya selalu berharap saat saya bangun tidur, bisa denger suara nangis kamu yang juga baru bangun. saya selalu berharap saat saya ngeluarin sepeda, kamu muncul, ngerengek minta ikut. saya selalu berharap saat saya buka pintu rumah, ada kamu lagi digendong-gendong terus minta masuk ke rumah saya. mondar-mandir dari ruang tamu ke ruang tengah, bikin saya cape ngejar-ngejar kamu, tapi seneng ngeliat cara kamu jalan, kayak pinguin. duing, duing.. saya ajarin kamu nulis, tapi yang ada koran baru ayah cuma penuh coret-coret ga jelas bentuk. abis corat-coret, kaumu tereak-tereak “mama! mama!”, pengen nunjukin hasil karya kamu itu. terus kamu saya tunjukin foto saya waktu masih kecil, supaya kamu bisa ngaca. saya suruh kamu senyum, kamu malah monyong-monyong. oia, sehabis saya makan di pizza hut, saya tenteng-tenteng balon khusus buat kamu. saya selalu berharap kamu pulang segera. karena kalau tidak, saya bisa jadi gila. karena setiap balita yang liat, wajahnya perlahan berubah jadi wajah kamu. di mana-mana, termasuk di tv.

memang ga banyak pengalaman yang saya lewatin sama kamu. karena hanya butuh sedikit waktu bagi saya untuk sayang sama kamu. kamu pulang ya, my enrnestito? adakah angin tepati janjinya kirimi pesan ini buat kamu di sana?

sang idealis melepas semua idealismenya, dan tersedu-sedu.
sang prinsipil melepas semua prinsipnya, dan terbenam di bantal.
rasa ini adalah satu-satunya yang tidak bisa ia pecahkan.


tuh liat, aku juga lagi mikirin kamu, kak! ampe merem-merem gini.

Senin, 24 November 2008

setengah jawaban

gue ingin merespon tentang protesnya fpi surakarta atas pengadaan syuting film “lastri” di sana. gue liat di tv one, di apa kabar indonesia, choiril, pembicara dari pihak fpi mengatakan tidak mengizinkan kalo daerahnya dijadiin tempat syuting film itu setelah membaca sinopsisnya. ini menyebabkan proses pembuatan film mandet, harus dihentikan (sementara). dan pastinya biaya produksi membengkak, merugikan si produser, marcella zalianty yang juga hadir di acara itu bareng eros djarot sang sutradara dan rosihan anwar, sejarawan. itu dikarenakan, menurut fpi film “lastri” berkesan ingin mengajarkan komunisme ke masyarakat. dia bilang, berseni itu kan tidak harus ada pki-pki-nya. dia ngomong panjang lebar di telepon pake bawa-bawa tap. mpr segala, tapi intinya yang bisa gue tangkep itu doang.

gue langsung komentar “beu elah! repot banget sih.” buat gue alasan di balik fpi meminta syuting dihentikan kurang jelas. berkesan mengajarkan komunisme kepada masyarakat? mengajarkan gimana? apa di dalam film tersebut dijumpai doktri-doktrin yang bersifat menghasut? setau gue, cerita “latri” itu kan cinta-cintaan, dan latarnya itu tahun 1965, di mana emang lagi kasus pki-pki gitu. dan gue rasa 1965 itu hanya sebagai latar aja, ga lebih. ibaratnya yaa cuma jadi bumbu aja biar beda sama film roman yang udah ada. terus, kepada masyarakat? masyarakat yang mana? emangnya semudah itu masyarakat bisa beralih ke paham komunisme, hanya dengan dipertontonkan sebuah film? toh unsur pki dalam film ini juga cuma selepehan doang. serendah itukah intelektualitas masyarakat kita sekarang? gue ga ngerti. apa sebenarnya yang dibela oleh fpi? mereka ga berhak dong, melakukan protes ini. kata bokap, mereka itu udah melakukan yang namanya ‘mengadili proses’, dan itu ga boleh. sama aja kalo kita lagi mau nendang bola, tapi pas kaki udah siap diangkat, pelatih kita udah tereak-tereak “woy! salah, bego!” (berdasarkan pengalaman pribadi). kita kan sma-sama belom tau, apa tendangannya bakal meleset atau malah bisa gol. padahal udah ancang-ancang dan tenaga udah kekumpul di kaki, eh... ditereakin begitu. bete kan? ngerti banget gue kenapa marcella kebanyakan diem sepanjang acara berlangsung.

dan yang gue pertanyakan, kenapa fpi yang maju? ini cuma meninggalkan kesan orang Islam penakut sekali. kenapa bukan perwakilan umat agama lain yang memajukan diri? atau kenapa tidak memprotes atas nama pribadi? terkesan orang-orang Islam suka protes. yang suka ngancurin club-club malam siapa? fpi. yang suka memporak-pondakan tempat orang mabok siapa? fpi. wah.. katanya semua agama baik, tapi kok yang ini demen banget bawa-bawa balok kayu terus mecahin kaca ya? kalo ga ada kaca, orang dihantem juga. udah gitu bertindak atas nama kelompok. iman orang kan beda-beda dan ga ada yang bisa ngatur. perek kalo ga ada yang make, juga ga bakalan kerja. bukan tempatnya yang dibasmi, tapi orangnya. kalo club yang satu udah diancurin, mereka kan bisa pindah tempat. dan orang-orangnya juga jangan dihakimi secara kekerasan. kalo ngaku kita semua saudara, yaa tuntunlah mereka. apalagi kalo fpi merasa sudah bisa bertindak paling benar. ya ajarkan mereka agar bisa sebenar fpi. kenapa harus anarkis sih? ini cuma ninggalin kalo mereka bawannya di mana-mana tuh rusuh doang. demokrasi sih, demokrasi. gue juga bisa kalo ada orang yang ngelakuin sesuatu yang menurut gue salah, langung gue bacok. tapi sayangnya gue ga dilahirin di zaman jahiliyah, dan malah dilahirin jauh setelah john locke udah bisa mebagi-bagi lembaga hukum di inggris sana.

mungkin inilah yang mebuat gue ragu. ajaran kita sudah rancu. kita hidup berabad-abad setelah kematian utusan yang terakhir. orang-orang untuk tempat bertanya pun sering kali ngasih jawaban yang beda-beda. mungkin untuk orang-oran lain yang beragama, pilihan untuk menjadi agnostik, ateis, komunis, atau apalah, itu egois. mereka anggap para penganut paham itu tidak mau terikat, tidak ingin disalahkan, tidak ingin diatur-atur atau dibudaki agama. tapi gue hanya ingin netral. tidak mau dituding berpihak pro atau kontra, benar atau salah, baik atau jahat. karena pandangan orang-orang tidak pernah sama meski cuma sebesar biji semangka. si pro keukeuh kalo yang dia anggap benar, memang benar. di pihak lain, si kontra tereak-tereak “salah!” atas apa yang dibilang benar sama si pro dan menunjukkan apa yang dia anggap benar buat dirinya sendiri. apa jadinya kalo ternyata yang dibilang pro itu salah, sedang yang dibilang kontra itu benar? resiko seperti itulah yang gue hindari ketika tidak atau belum bisa menentukan mana yang benar atau mana yang salah. karena gue masih belajar untuk memilih.

bisa ya, bisa tidak

ngahah.. tersenyum nyinyir gue setelah baca blog seseorang. kocak aja, kenapa gue ga dilahirin pas masa filosof athena aja? jadi gue ga usah repot-repot ngejawab pertanyaan-pertanyaan ini dan mencoba membantu orang untuk memandang kehidupan dalam suatu perspektif baru (weits, weits). dan mungkin ini adalah tulisan gue yang paling sok tau sepanjang sejarah gue idup. jadi kalo ga setuju ya gapa-pa. liat aja dewi persik ama saepul jamil. meski berseteru di media massa, dewi persik sakit, bang ipul mau ngejenguk. jadi, suatu saat perbedaan akan menemukan titik temu walau butuh berabad-abad (ga nyambung).
kalo Tuhan itu beneran ada gimana?
yaa tergantung sama apa yang lo anut. kalo dari awal lo tau, yakin dan bisa ngebuktiin kalo Tuhan itu memang ada, yaa lo ga perlu melontarkan pertanyaan seperti itu. kenapa harus bertanya seperti itu? apa ga lebih baik kita bertanya: ‘apakah Tuhan benar-benar ada?’ sebelumnya. ‘janganlah mengambil kesimpulan terlebih dulu’. itu yang gue pelajarin dari filsafat. gue ingin menjelaskan pada dasarnya antara filosof dan manusia biasa tidak ada perbedaan. seperti kata plato, semua manusia terbagi atas tubuh, jiwa, sifat dan negara. seperti yang gue baca di dunia sophie: anggap kita semua hidup di balik bulu seekor kelinci putih yang dikeluarkan dari topi pesulap. kita semua bertambah umur. sebagian merasa begitu nyaman hidup di bulu kelinci itu dan makin melesak ke dalam. tapi sebagian lagi berusaha untuk memanjat bulu-bulu halus itu. mereka mencoba untuk menatap langsung mata si pesulap. mereka kadang jatuh, saking halusnya bulu tersebut. namun mereka tidak pernah menyerah. nah, mereka itulah para filosof. saat semua orang terbiasa dengan keadaan yang sudah ada, mereka berusaha mencari jawaban yang bermunculan di kepala mereka tentang segala kehidupan ini.
jadi kalo Tuhan itu beneran ada gimana? mungkin pertama-tama Tuhan akan memarahi gue karena pernah tidak percaya denganNya.

terus gimana dengan kefanatikan atas agama masing-masing?
kita tidak harus menjadi seorang fanatik. kalo gue pikir, fanatik itu kan yang bener-bener taat tanpa mempertanyakan kenapa dia harus ngelakuin ini-itu. dan gue bukan tipe orang yang kayak gitu. bukti hidupnya: nyokap. gue sering banget nanya “emang kenapa sih mesti kayak gitu?” kalo nyokap ga bisa jawab, gue keukeuh ga mau ngerjain apa yang dia suruh. mungkin ngerjain, tapi males, setengah-setengah. sekarang emang bukan zaman socrates, di mana agama belum bermunculan dan orang-orang percaya akan dewa-dewi dan mencari pembenaran akan keberadaan yang mereka puja tersebut. sekarang udah beda. malah satu agama bisa bercabang-cabang ajarannya. jadi semua kembali kepada lo. ga kayak dulu, sekarang semua orang punya pilhan, untuk percaya Tuhan atau tidak, menjadi fanatik atau tidak, menjadi yang makin melesak masuk ke bulu kelnci atau yang ingin memanjatinya. kayak ulangan aja, sebelum memilih kita butuh belajar. dan gue masih sedang belajar untuk apa yang nanti gue pilih.

kalo jembatan sirothol mustaqim bener-bener ada gimana?
darimana lo tau? karena semua orang yang satu keyakinan sama lo ngomong gitu? yaa gapa-pa kalo lo percaya. kan gue udah bilang di atas, kalo lo yakin sama yang lo anut, ya jalanin. kalo lo tiba-tiba ragu, cari tau sendiri apakah jembatan itu ada? kenapa ninggalin keraguan itu tanpa jawaban? kenapa lo selalu bertanya “gimana kalo itu beneran ada?”, tapi ga pernah bertanya “apakah itu bener-bener ada?” atau “bagaimana itu bisa terjadi?”. salah satu jalan adalah mulai belajar filsafat. itu kalo lo mau. orang yang paling bijaksana adalah orang yang tau dirinya tidak tau.

kalo ada putih, kenapa harus ada hitam yang menakutkan?
pertama-tama gue harus bertanya, apa yang mendasari pertanyaan lo itu? gue rasa filsafat mestinya emang udah dijadiin pelajaran dari sd. kalo kita belajar filsafat, yang tadi gue bilang, ga boleh menyimpulkan sesuatu cepat-cepat. ada baiknya lo bertanya dulu ‘apakah yang putih selalu menyenangkan, sedang yang hitam itu menakutkan?’ jangan salahkan mereka. hitam dan putih sudah sedih karena ternyata mereka tidak sekelompok dengan biru, merah, kuning, dan warna lain. mereka bukan warna. lo terpatok oleh keadaan yang sudah ada. orang-orang itu sudah meracuni lo bahwa yang putih itu menyenangkan, sedang hitam menakutkan. sama halnya seperti: seorang ibu masak di dapur. ayah nonton tv. si anak yang masih balita lagi main mobil-mobilan. tiba-tiba ayah, yang memang suka bertingkah aneh, melayang-layang di udara. si anak berteriak, “wow! ayah terbang”. sedang ibu yang melihat kejadian itu langsung pingsan di tempat. kenapa reaksi mereka berdua berbeda? itu karena anak kecil belum bisa membedakan mana yang bisa terjadi, mana yang tidak. sedang ibu sudah tahu, dan terpatok di pikirannya bahwa manusia tidak bisa terbang seperti burung. sama halnya dengan lo, terpatok akan sifat hitam-putih tadi.

kenapa Tuhan mempermainkan kita?
sama aja kalo kita lagi main robot-robotan. apakah robot tersebut bisa bergerak tanpa kita gerakan? tidak, kemudian kita mengisinya dengan batere. itu pula yang dilakukan oleh Tuhan. robot bisa bergerak, berjalan sendiri karena sudah terpasang batere di badannya. namun dia tetap tidak bisa bergerak bebas sekehenadaknya. kitalah yang memainkannya. robot itu berjalan lurus, dan bukan hal yang sulit buat kita kalo mau robot itu berbelok ke kanan, karena kita tinggal menggeser badan robot tersebut. sama halnya dengan manusia. kita ditiupkan ruh dan diberi kesempatan untuk hidup. bedanya kita tidak sekedar mesin-mesin atau kabel seperti robot, kita punya pikiran. seperti kata aristoteles, kita memiliki kemampuan untuk berpikir secara rasional, yang membedakan kita dengan binatang. di sini gue ga setuju sama spinoza yang bilang:”Tuhan bukan dalang.” sponoza menyamakan alam dengan Tuhan. “Tuhan itu segalanya, dan segalanya ada dalam diri Tuhan.” ga, ga kayak gitu buat gue. kita didalangi oleh Tuhan. itu jelas. gue pernah denger, bahkan sepucuk daun pun akan jatuh dengan seizin Tuhan. betapa jelasnya kalo hal sekecil itu saja didasari kehendak Tuhan? Tuhan dalang yang hebat dan agak egois. mengapa Dia membiarkan daun itu tumbuh kalo pada akhirnya daun itu meranggas? mengapa Dia beri kita hidup bila nantinya kita mati? sama seperti robot tadi, mengapa kita membelinya dan juga membelikan batere untuknya, kalo nanti dia akan karatan dan rusak? karena kita senang ada sesuatu yang nurut sama kita, dan tanpa cape-cape buat ngendaliinnya. maka Tuhan menciptakan banyak manusia agar dia tetap berstatus dalang. mungkin ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan setelahnya: kalo ada nyata, kenapa ada gaib? kalo ada mudah, kenapa ada susah? Tuhan mendengar pertanyaan itu.

Tuhan ada di mana?
itulah yang gue tidak bisa buktikan, karena selama ini gue menyembah yang tidak terlihat. tapi jelas Tuhan lah sang pembuat tangga alam, di mana manusia berada di posisi paling atas. maka kalo manusia berada di tangga teratas, membawahi makhluk hidup dan benda mati lainnya, berarti Tuhan melayang-layang dengan gesit di atas tangga itu. itulah yang menyebabkan Dia dapat mengatur segalanya tanpa kita bisa melihatNya. karena Dia terlalu tinggi dan cepat. atau karena kita yang terlalu rendah dan tidak dapat melihatnya dari sini? jelas Tuhan tidak mau diprotes karena itu. dan kenapa Tuhan kita sembah? gue tidak tau. mungkin itu pelarian dari kebingungan kita akan permberian kehidupan ini. kita tidak tau harus bersyukur atau malah marah diberi kehidupan. daripada pusing memikirkan keduanya, lebih baik kita sembah Tuhan saja tanpa mempertanyakan ini-itu lagi. dan gue rasa itu bukan jawaban yang logis, karena mungkin seharusnya gue membuka diri, bahwa pada dasarnya Tuhan lah yang menghidupi kita. dan st. paulus bilang, “dalam diriNya kita hidup dan bergerak dan menjadi.” karena kita hiduplah kita menyembahNya. kalo kita benda mati, kita tidak akan bisa menyembahnya. apakah selendang merah di atas lemari bisa menyembah Tuhan? sudah pasti semua orang menjawab dengan jawaban yang sama, bukan?

gimana? gue rasa seseorang belom puas sama jawaban dan penjelasan gue, karena dia masih tidak mau membebaskan pikirannya dari segala patokan yang sudah diracuni orang lain kepadanya. untuk mulai mencari tau jawaban yang lo inginkan adalah berpikir kayak anak kecil. buang patokan-patokan yang lo ketahui, tapi ga pernah sekali pun lo buktiin. tapi gue tidak ingin mendoktrin orang lain dengan pikiran-pikiran gue. karena “orang yang mengetahui benar akan bertindak benar”. yaa.. ini bukan masa orang-orang sophis di pra-socrates, jadi lagi-lagi semua kembali pada lo. kadang untuk melakukan yang kita anggap benar, kita harus melakukan banyak kesalahan. jangan goyah kalo tidak mau goyah. seperti jangan hidup kalo tidak mau berdosa.

Minggu, 23 November 2008

HOAAHHEEMM!!

sang beruang tidur, dan tak ada yang berani ganggu dia.. oh sibuknya.. aku sibuk sekali.. aduh.. udah berapa zaman nih gue ga posting? alamaak.. blom jadi artis udah (sok) sibuk dah. ini semua gara-gara kepsek anjeeng. kelas xi masuknya siang jadinya!! lagian, tiap gue mau nulis, pikiran gue bercabang-cabang, jadinya bingung. pasti jadinya mencar-mencar. tapi siapa juga ya yang ngelarang gue nulis mencar-mencar? jadi kali ini gue mau nulis macem-macem topik pendek, beberapa hal yang baru gue alamin.

sambil nunggu kejelasan the surachmans yang ga jelas-jelas, gue punya band lain bareng gebetan (beneran) bebek, si kiwil. gue gitarisnya, emang gue bisanya main gitar doang. gue juga bisa bass dikit-dikit, tapi entar kurang eksis kalo jadi bassis. nguahahah, ga deng, emang udah ada yang jadi bassisnya. oia, ada kejadian yang, menurut gue sih, lucu di balik pembuatan band ini. ngemeng-ngemeng kita blom punya nama. ada beberapa pilihan kayak: lankarte (bahasa jermannya peta), arslane (gabungan nama personel), the wall of memories, the dying of mary.. no news juga kedengarannya bagus.

oia, kejadian lucunya itu gini: awalnya baru ada drummer dan dua gitaris. nah gue dapet tugas nyari bassis. setelah nanya-nanya, si a’thoina punya temen cewek yang anak band gitu, tapi dia gitaris juga. gue (sok) optimis, ntar dia juga main bass kalo awalnya bisa main gitar. namanya, buat gue, jawa abis, mamas. gatau deh itu nama benerannya atau panggilan. dan mudah-mudahan dia ga pernah tau cerita ini. gue ga pernah kenal dia sebelumnya. tapi kalo dari nama dan balesan-balesan smsnya itu gue pikir anaknya asik. karena selama pengalaman, gue pernah kenal sama temen-temen cewek gue yang namanya jawa banget, tapi good-looking dan menjulang-menjulang gitu. dan gue pikir si mamas juga seperti temen-temen gue itu. kebiasaan gue suka menilai semua orang itu sama. udah deh tuu, gue kasih tau visi-misi (caelah) band yang mau kita bentuk.

dan pas ketemu sama orangnya.. well, well.. pas si mamas udah pulang, tapi personel laen masih ngumpul, si adit, drummer, bilang, “gini, gini.. mm.. kalo bikin band, yaa mao-ga mao kan mesti apa yah.. good-looking gitulah. tapi gue liat si mamas ga good-looking. bad-looking, malah! ga mao kan lo punya anggota band alay gitu.” gue agak bingung juga harus berkspresi apa. antara ga enak, karena (lagi-lagi) fisik jadi patokan, atau gue mesti bersyukur karena adit udah jujur dan sehati sama gue. akhirnya gue yang bertugas mengeksekusi si mamas dan sepik-sepik kita ga jadi biikin band. terus belakangan si mamas sms gue: “shel, kita bikin band lagi tuk. Lo gabung sama band gue, mau ga?”. Ga mao munafik, gue ketawa, ngakak. ntar deh mas, kalo kangen band ga laku lagi, kemungkinan (sangat kecil) gue mao ngeband sama lo. kalo kangen masih eksis, gue takut kita punya saingan berat.

di lain kisah, gue sekolah hampir ga pernah dapet apa-apa. dikarenakan godaan buat becanda sama bebek lenih kenceng daripada hasrat buat belajar. masuk siang, bawannya ngantuk, bosen, duduk di sebelah bebek.. yaudadeh, kegirangan para setan-setan yang godain gue. kita paling sering memanfaatkan pelajaran bahasa inggris sama indonesia buat cengangas-cengenges. sebenernya sih setiap pelajaran, tapi kedua pelajaran itu the most right time buat cekikikan, jepret-jepretin si mamet, yang masih berani idup, nyela-nyela orang, saling bertukar cerita dosa-dosa yang pernah dilakuin, ngeliatin keahlian bebek mengemabng-kempiskan idungnya yang kayak bekantan, terus ketawa-ketawa tapi mesti ditaha.. ampe akhirnya gue ga bisa nahan dan hampir disuruh keluar dari kelas. hadoh, hadoh.. saling mencacatkan diri deh. makin cacat gue gara-gara bebek, juga sebaliknya.

terus, keputusan gue mulai menjadi orang yang agnostik. apa itu? orang yang tidak bisa membuktikan tuhan itu ada, tapi juga ga bisa ngebuktiin kalo tuhan itu ga ada. dalam beberapa hal, gue suka ga percaya tuhan itu ada. kayak: buat apa sih kita idup, kalo semuanya yang ngatur tuhan. apakah tangan kita bisa bergerak karena kehendak tuhan? bukan, tapi karena pancraindra kita pengen tangan kita, yang punya macem-macem otot, bergerak. tapi di lain hal, gue percaya tuhan itu ada. berawal dari gue baca pendapat filosof berekeley: “ini bukan masalah siapa kita. tapi apakah kita? kita hanyalah makhluk yang hidup di dalam impian tuhan.” gue jadi mikir, gimana kalo berkeley bener? selama ini gue ga nyata, tapi cuma impian tuhan, dan gue hidup di sana. karena tuhan mempunyai kekuasaan tertinggi, tidak seperti manusia, dia bisa mengatur mimpinya. berarti ketika gue bermimpi dalam tidur, pada dasarnya, di dalam impian tuhan itulah gue bermimpi dan lagi-lagi tuhanlah yang mengatur mimpi gue, dan kapan gue harus bangun.

dan juga gue merilis (alah) blog baru gue yang isinya puisi bikinan gue sendiri. cekikidot here y’all!

Selasa, 11 November 2008

jangan lari, ntar jatoh

emang naluri calon anak flsafat ui (ehem, ehem!) ato emang calon pejabat, saya sering menyepelekan yang penting dan mementingkan yang sepele. tukang ojek bilang “jangan lari, shel! ntar jatoh!” aja saya pikirin seserius ini dan ampe saya tulis di blog kan? makanya kalo seseorang bilang ga penting, jangan pikir saya bakal nganggep ga penting juga. begitu juga sebaliknya, kalo orang bilang penting malahan ntar saya anggep ga penting.

kenapa si tukang ojek langganan saya, bang joker namanya, ampe bisa bilang kayak gitu? emangnya dia baru aja ngeliat saya lari-larian? ga lah, saya ga lagi maen galaksin kok waktu ketemu dia. lalu, apa yang melandasi dia bisa mengeluarkan kata-kata itu? apa ya? kayaknya iseng doang. tapi kenapa mesti “jangan lari, shel! ntar jatoh!”? emang ga ada kalimat yang lebih iseng, apa? misalnya, “pulang sekola, shel?”, atau “darimana, shel?”. yee itu mah keterlaluan banget isengnya, kalo jelas-jelas dia ngeliat saya pake seragam. kenapa ya? kapan sih dia ngeliat saya lari? jangan-jangan dia punya intel yang disuruh buat ngikutin saya. soalnya saya emang sempet lari-lari di sekola, pas bebek pengen nyamperin saya, tapi sayanya malah disengajain lari, takut masuk neraka kalo ampe disamperin bebek.

terlepas dari semua itu... saya emang hobi lari. ‘lari’ yang dimaksud di sini bukan lari yang berarti bergerak cepat dengan kaki, yang bisa bikin betis kenceng dan badan jadi enteng. ‘lari’ yang suka saya lakukan itu berlari dari kenyataan (lebai, lebai!). apakah sekarang saya sedang berlari? iya, setiap detiknya, tanpa saya sadari. misalnya, minggu ini kan pekan ulangan. saya belajar, pada kenyataannya saya males banget. tapi kalo saya ga belajar, saya mesti ngadepin kenyataan lainnya kalo kenyataannya saya sekola bayarnya bukan pake daon. terus ntar kalo dapet jelek, saya males remed. dan kenyataannya saya emang mesti remed. jadi, daripada saya dikejar-kejar kenyataan, mending saya lari dari kenyataan pertama dan akhirnya saya belajar deh. yaa.. emang kenyataannya kalo kerja jadi pelajar mesti belajar. sama aja kalo kerja jadi pelacur mesti melacur. sebelumnya juga mesti jadi pelajar dulu sebelum jadi pelacur, belajar melacur. baru deh abis itu bener-bener melacur. terus pelacur melacurnya di monas, di deket air mancur. dilacur, dibayar pake semangkok bubur. terus yang dilacur kabur. pada akhirnya, pelacur akan jadi kaum yang hancur dan penghancur. yang nulis ikut ancur.

dan akhirnya saya jatoh juga. bener, kalo kita lari, resikonya ya jatoh, cape atau karena kesandung sesuatu. selama ini saya terlalu serius lari-lari, terlalu menggebu-gebu. lari, nyembunyiin marah, kesel, dan emosi saya dibalik ketawa-ketiwi saya. lari, kalo saya ga sebaik yang dianggep nyokap-bokap dan orang lain. lari, usaha merjuangin sesuatu yang kayak gelas beling, gampang pecah. lari, harus selalu jadi pihak yang sabar dan ngalah. dan inilah waktunya saya marah!! saya sedih!! saya kesel! saya kecewa! saya malu! saya benci!

ngapain dulu saya lari-lari kalo pada akhirnya bakalan jatoh kayak gini? soalnya dia nuntut saya lari. dia ngejar-ngejar saya terus. saya juga ga bisa bohong dan sembunyi dari dia. dialah yang saya akui saya kalah sama dia. dia yang satu-satunya yang ga bisa saya bohongin selain Tuhan. bisa jadi, dia yang nyuruh bang joker nyampein ke saya “jangan lari, shel! ntar jatoh!” padahal karena dikejar dialah makanya saya lari.

dan kejatohan kali ini saya hadapi dengan er dan be night, bersama destiny’s child, usher, frankie j, and many more.. ng, craig david itu er dan be bukan sih?

oia mau tau siapa si ‘dia’ yang ga bisa saya boongin? gampang kok. tinggal ketik reg sepasi dia kirim ke 4455. sms yang kamu terima, langsung dari hp saya!

tut-tut. tut-tut.

sender: 4455

waktu