Sial! Ternyata ga selancar yang saya inginkan dan seperti apa yang Frou Tere janjikan. Nyatanya, keesokan harinya, Bu Tuti ga masuk ke kelas saya. Mungkin Frou Tere kurang punya pengaruh kuat di sekolah. Karena ia udah senior aja makanya saya sebegitu percayanya sama dia. Tapi kayaknya biar gimana pun, saya tetep ga bisa berjuang sendirian. Saya butuh orang lain. Tapi temen-temen saya sekelas cuma ngomong dong, ada yang bilang, “Udah, kita rame-rame aja ngomong ke Bu Maria.” Well, saya maunya juga gitu. Tapi mana, saya ajak pada tunjuk-tunjukan “Lo ajak yang si itu juga donk. Gue sih gampang, Shel.” Gampang tapi kalo ga ngambil satu langkah aja, kapan nyampenya.
Saya harus punya strategi baru. Yah, walau pun saya ragu bakalan terealisasi. Abis saya pesimis sekaligus sebel. Tercermin saat saya ngumpul atau sekedar ngobrol sama kelas jurusan lain, mereka bilang ke saya kalau mereka juga satu pikiran, tidak setuju dengan adanya pelajaran seni kaligrafi dan menuntut perubahan. Tapi saat saya mengutarakan ide saya, yakni saya ingin setiap kelas ada perwakilan untuk menghadap ke guru yang mempunyai jabatan yang berpengaruh, mereka nampaknya hanya menganggap angin lalu dengan menganguk-angguk saja seperti burung pelatuk. Saya pun langsung mengerutkan kening, lho kok gini sih? Anda mau perubahan, tapi kok ga mau mengambil langkah? Apa mereka oesimis bahwa perubahan akan terjadi? Apa mereka berpikir bahwa Kepsek lebih kuat dan selalu benar? Atau takut dicap sebagai pembangkang oleh guru-guru?
Pembangkang bagaimana? Saya punya alasan yang cukup kuat, kenapa saya harus protes. Yaitu : yang paling begitu saya sayangkan, saya dan teman-teman satu angakatan samasekali tidak diberitahu atas perubahan ini, seperti apa yang sudah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya. Kenapa tidak ada permusywarahan bersama terlebih dulu? Apa Ibu Kepsek beranggapan bahwa kami tidak memiliki hak untuk memilih dan harus menerima semua keputusan yang dibuatnya? Saya sedih sekali. Saya malah tidak dapat berperilaku demokratis di tempat dimana saya mempelajarinya. Kami pelajar, dan sama seperti manusia lainnya, kami memilik hak.
Kemudian, apakah sebelumnya keputusan tersebut sudah dipikirkan baik-baik? Kegunaannya nanti setelah kami lulus dari sekolah, apakah semua murid bisa mengikuti pelajaran tersebut lebih baik dari pelajaran sebelumnya, juga keefektifannya kami mengikuti pelajaran seni kaligrafi daripada seni musik? Apakah nantinya bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Buat saya pribadi, saya merasa tidak sperti itu. Mungkin ada sebagian yang merasa seni kaligrafi bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, tapi saya tidak. Bagaimana bisa? Keseharian kami para remaja malah sebagian besar diwarnai dengan musik. Banyak lah sekarang yang malah tidak sekedar menikmatinya, namun juga sebagai yang menciptakan dan memainkan. Saya sendiri tidak pernah mendengar ada teman saya yang hobi kaligrafi. Bukankah lebih menyenangkan, hal yang kita sukai tercatat sebagai mata pelajaran di sekolah?
Bukannya saya ingin membanding-bandingkan seni kaligrafi dan seni musik. Tapi mbo kita yang realistis saja, Kawan. Sekolah kami bukan sekolah yang seluruh penghuninya Muslim. Memang mayoritas, tapi bagaimana dengan teman kami yang menjadi minoritas? Mereka kan tidak seperti kita yang dari TK sudah disuruh mengahapal huruf hijaiyah. Awalnya saya sempat berpikir, pasti semua bisa dikuasai kalau kita mau. Itu kalau mau. Tapi nyatanya, saya berteman dengan seseorang non-Muslim, dan dia kelimpungan saat harus belajar bahasa Arab bersama lainnya yang Muslim. Dan saya pun berpikir, wah jatohnya juga jadi ga adil gini ya. Dia baru 3 bulan belajar dan harus ikut ulangan blok bersama kami yang sudah apal dari bertahun-tahun lamanya. Sudah dapat diprediksi, nilai akhirnya akan lebih rendah dari kami, berapa pun itu.
Di luar pergantian seni musik menjadi seni kaligrafi, khusus untuk jurusan yang saya pilih, yakni Bahasa dan Budaya, bahasa Perancis yang seharusnya kami pelajari tahun ini malah diganti pariwisata. Dan saya jadi sedikit mengerti akan pergantian tersebut. ketika guru pariwisata tersebut sendiri yang bilang saat perkenalan, dia tak lain adalah teman sang Kepsek dan masih menjadi guru di sekolah yang Bu Maria kepalai sebelum sekolah saya Well, collusion works. Always works in this country. Makin kuat bukan, alasan saya?
Kalau ajakan saya tidak ditanggapi oleh teman-teman yang lain, terpaksalah saya harus tetap berjuang sendiri walau saya yakin akan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada saya berjuang dengan jumlah yang lebih banyak. Kapan akan terjadi perubahn, saya tidak tahu. Satu yang saya yakini, saya sedang berjuang.