Sabtu, 30 Agustus 2008

Saya sedang berjuang

Sial! Ternyata ga selancar yang saya inginkan dan seperti apa yang Frou Tere janjikan. Nyatanya, keesokan harinya, Bu Tuti ga masuk ke kelas saya. Mungkin Frou Tere kurang punya pengaruh kuat di sekolah. Karena ia udah senior aja makanya saya sebegitu percayanya sama dia. Tapi kayaknya biar gimana pun, saya tetep ga bisa berjuang sendirian. Saya butuh orang lain. Tapi temen-temen saya sekelas cuma ngomong dong, ada yang bilang, “Udah, kita rame-rame aja ngomong ke Bu Maria.” Well, saya maunya juga gitu. Tapi mana, saya ajak pada tunjuk-tunjukan “Lo ajak yang si itu juga donk. Gue sih gampang, Shel.” Gampang tapi kalo ga ngambil satu langkah aja, kapan nyampenya.

Saya harus punya strategi baru. Yah, walau pun saya ragu bakalan terealisasi. Abis saya pesimis sekaligus sebel. Tercermin saat saya ngumpul atau sekedar ngobrol sama kelas jurusan lain, mereka bilang ke saya kalau mereka juga satu pikiran, tidak setuju dengan adanya pelajaran seni kaligrafi dan menuntut perubahan. Tapi saat saya mengutarakan ide saya, yakni saya ingin setiap kelas ada perwakilan untuk menghadap ke guru yang mempunyai jabatan yang berpengaruh, mereka nampaknya hanya menganggap angin lalu dengan menganguk-angguk saja seperti burung pelatuk. Saya pun langsung mengerutkan kening, lho kok gini sih? Anda mau perubahan, tapi kok ga mau mengambil langkah? Apa mereka oesimis bahwa perubahan akan terjadi? Apa mereka berpikir bahwa Kepsek lebih kuat dan selalu benar? Atau takut dicap sebagai pembangkang oleh guru-guru?

Pembangkang bagaimana? Saya punya alasan yang cukup kuat, kenapa saya harus protes. Yaitu : yang paling begitu saya sayangkan, saya dan teman-teman satu angakatan samasekali tidak diberitahu atas perubahan ini, seperti apa yang sudah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya. Kenapa tidak ada permusywarahan bersama terlebih dulu? Apa Ibu Kepsek beranggapan bahwa kami tidak memiliki hak untuk memilih dan harus menerima semua keputusan yang dibuatnya? Saya sedih sekali. Saya malah tidak dapat berperilaku demokratis di tempat dimana saya mempelajarinya. Kami pelajar, dan sama seperti manusia lainnya, kami memilik hak.

Kemudian, apakah sebelumnya keputusan tersebut sudah dipikirkan baik-baik? Kegunaannya nanti setelah kami lulus dari sekolah, apakah semua murid bisa mengikuti pelajaran tersebut lebih baik dari pelajaran sebelumnya, juga keefektifannya kami mengikuti pelajaran seni kaligrafi daripada seni musik? Apakah nantinya bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Buat saya pribadi, saya merasa tidak sperti itu. Mungkin ada sebagian yang merasa seni kaligrafi bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, tapi saya tidak. Bagaimana bisa? Keseharian kami para remaja malah sebagian besar diwarnai dengan musik. Banyak lah sekarang yang malah tidak sekedar menikmatinya, namun juga sebagai yang menciptakan dan memainkan. Saya sendiri tidak pernah mendengar ada teman saya yang hobi kaligrafi. Bukankah lebih menyenangkan, hal yang kita sukai tercatat sebagai mata pelajaran di sekolah?

Bukannya saya ingin membanding-bandingkan seni kaligrafi dan seni musik. Tapi mbo kita yang realistis saja, Kawan. Sekolah kami bukan sekolah yang seluruh penghuninya Muslim. Memang mayoritas, tapi bagaimana dengan teman kami yang menjadi minoritas? Mereka kan tidak seperti kita yang dari TK sudah disuruh mengahapal huruf hijaiyah. Awalnya saya sempat berpikir, pasti semua bisa dikuasai kalau kita mau. Itu kalau mau. Tapi nyatanya, saya berteman dengan seseorang non-Muslim, dan dia kelimpungan saat harus belajar bahasa Arab bersama lainnya yang Muslim. Dan saya pun berpikir, wah jatohnya juga jadi ga adil gini ya. Dia baru 3 bulan belajar dan harus ikut ulangan blok bersama kami yang sudah apal dari bertahun-tahun lamanya. Sudah dapat diprediksi, nilai akhirnya akan lebih rendah dari kami, berapa pun itu.

Di luar pergantian seni musik menjadi seni kaligrafi, khusus untuk jurusan yang saya pilih, yakni Bahasa dan Budaya, bahasa Perancis yang seharusnya kami pelajari tahun ini malah diganti pariwisata. Dan saya jadi sedikit mengerti akan pergantian tersebut. ketika guru pariwisata tersebut sendiri yang bilang saat perkenalan, dia tak lain adalah teman sang Kepsek dan masih menjadi guru di sekolah yang Bu Maria kepalai sebelum sekolah saya Well, collusion works. Always works in this country. Makin kuat bukan, alasan saya?

Kalau ajakan saya tidak ditanggapi oleh teman-teman yang lain, terpaksalah saya harus tetap berjuang sendiri walau saya yakin akan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada saya berjuang dengan jumlah yang lebih banyak. Kapan akan terjadi perubahn, saya tidak tahu. Satu yang saya yakini, saya sedang berjuang.

Selasa, 26 Agustus 2008

di mana hak gue?

Well, sama sekali bukan hak sepatu maksudnya. Maksudnya, hak gue sebagai pelajar. Dan semoga sebentar lagi gue akan menggenggamnya. Fakta bahwa orang semakin tua semakin berjiwa diktaktor, makin gue yakini. Gini lho. Gue masuk jurusan bahasa dan budaya di sekolah gue. Kenapa? Padahal kan gue pinter? Gue kan mampu? Padahal gue kan keren? Halah. Karena gue ngincer bahasa Perancis, kan malu sama suami nanti ga bisa bahasanya dia. Dan ternyata begitu gue dapet catetan mata pelajaran kelas gue, yang ada di sana Pariwisata, not a Perancis. Oke, gue masih bisa (sok) excited lantaran Mariteng bilang itu pelajaran ga kalah asik sama Perancis dan TPI. Tapi nyatanya beberapa kali pelajaran itu terlewati di kelas gue, gue makin heran : kok ini guru tau semua tentang hotel sih? Gue tidak mau berfikir yang jelek-jelek seperti kakak kelas gue, tapi gue mikir yang buruk-buruknya aja. Dan pertanyaan yang paling penting dan selalu mengganjal di hati ini setiap mau tidur : kenapa korbannya malah Perancis yang terang-terangan di sanalah masa depan gue (biasa.. mimpi.). Dan sampai sekarang gue tidak mendapatkan jawaban yang bisa melegakan hati ini.

Makin yakin oleh pernyataan gue di atas, Kepala Sekolah baru dengan cerdasnya mengganti pelajaran seni musik dengan seni kaligrafi untuk seluruh siswa kelas XI. What the heck? Pelajaran macam apa itu? Yang ada setiap pelajaran itu, gue bersama penggugat lainnya atas dirampasnya hak kami sebagai pelajar, kami dicap PENGANGGURAN oleh guru gue yang sempet jadi tokoh utama di serial Jin dan Jun.

Akhirnya dilatarbelakangi keletihan gue memaki-maki dan pelarian diri dari kedua pelajaran itu, gue mengambil langkah yang bisa menyelamatkan gue dan temen-temen seangkatan gue. Gue ditemani Mariteng protes dan mencurahkan segala kegelisahan hati selama ini kepada wali kelas gue yang udah mirip Nirmala, baik dan pengertian sekali. Kami mau hak kami sebagai pelajaran yang mencari ilimu dan yang membayar dikembalikan. Wong ga bisa seenaknya toh, gonta-ganti jenis pelajaran. Mungkin gue masih bisa menerima kalau sebelumnya pergantian itu dirundingkan besama kami, siswa-sisiwi, dan hasilnya sebagian besar dari kami menyetujui perubahan itu. Tapi apa? Kami TIDAK SAMA SEKALI diberitahu atas perubahan itu. Akhirnya yang ada gonjang-ganjing di belakang, membuat diri gue dan teman- teman jadi dosa terus, karena mau ga mau mencela pelajarannya karena ketidakpuasan kami.

Setelah gue anggap cukup apa yang seharusnya gue sampaikan ke wali kelas gue yang begitu gue sayangi, Frou There, gue pun langsung menyebarkan bahwa gue dan Mariteng sudah protes atas nama XI IPB dan jurusan lainnya yang seangkatan. Sumpah, gue berasa jadi Gie gitu deh, sudah menjadi yang berani bicara dan meminta hak gue sepenuhnya sebagai pelajar. Dan setelah gue ngomong, Frou There bilang akan mengajukan permohonan gue ke wakasek, dan bener aja. Frou lagsung menuju ruang wakasek. Gue senang sekali akhirnya ada yang mau mendengarkan dan membantu gue untuk merealisasikan pengembalian hak kami. Walau Frou bilang, gue dan teman-teman harus tetap mengikuti pelajaran kaligrafi dulu sampai ada keputusan.

Begitu gue keluar kelas kesenian, gue langsung nyari Frou. Wah, makin merasa kemenangan sebentar lagi milik gue dan yang lain lantaran Frou bilang, Bu Tuti, guru yang menjadi seksi kesiswaan bakalan masuk ke kelas gue dan XII IPB untuk mrmbicarakan hal ini. Dan gue siap untuk membuat Bu Tuti merubah pelajaran yang seharusnya kami dapatkan dengan berbagai argumen.

Dan sekarang, gue dan teman-teman hanya bisa menunggu. Apakah hak kami akan kembali ke tangan atau kembali dirampas? Kami tidak tahu. Tapi gue berusaha sekeras mungkin ngedapetin apa yang seharusnya diberikan untuk gue dan teman-teman.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Lanjutan dari posting yang kemarin. Kenapa gue bisa begitu ngerasa sendiri? Gue orang yang idealis. Kalo beda sama pendapat orang lain, kalo udah beda banget, ya gue bakalan menarik diri dari keadaan itu. Ga peduli nantinya mau dianggap apa sama orang yang gagasannya beda sama gue. Gue ya gue, elo ya elo. Gue ga ada maksud ngerubah cara mikir lo, dan sebaiknya begitu juga sebaliknya.

Kayak misalnya gue ada di satu keadaan di mana orang-orangnya serba kebalikan dari gue. Yang macem banyak ngomong, terlalu mikirin penampilan tapi ngomongnya yang ga juntrungan, banyak maunya, tapi untuk menuhin kemaunnya tuh yang ribet sendiri. Dan pada akhirnya pembicaraan dia sama sekumpulan orang-orang itu ngebikin dia lupa kalo ada yang mesti dilakuin, terus ujung-ujungnya marah-marah sama orang lain. Padahal dia sendiri yang ngelantur. Wah, mending gue cepet-cepet pergi dari keadaan itu. Daripada nanti ada perpecahan.

Karena gue kadang suka ngotot dan ngoyo merjuangin apa yang gue mau. Kalo gue mau A, tapi yang lain milih B, ga ada yang satu jalan sama gue, ya gue jalanin sendiri. Makanya gue jadi ngerasa sendiri. Ga peduli, mana hasil yang paling baik dari A dan B itu. Dan parahnya, gue ga mandang orang yang beda pikiran sama gue.

Tadi pas pergi ke rumah sodara gue yang di Purwokerto, berhubung gue emang cape dan ngantuk berat, gue maksa tidur di bis. Bangun-bangun, tiba-tiba seorang sepupu gue yang masih SD, yang baru dibeliin hp sama orang tuanya bilang gini, "Ah cemen kamu, ga punya henfon." Hampir gue keceplosan, "Ga pa-pa aku ga punya henfon. Ya penting masih punya otak." Walah, apalagi keadaan gue masih setengah sadar. Tapi untungnya gue mengingat, "Oh. Namanya juga nakal kecil,". Kalo ampe keceplosan beneran, ga enak banget sama nyokapnya kalo denger.

Selama ini orang-orang lebih sering ngebiarin perbedaan pikiran gue sama mereka. Guenya juga jarang bisa ngubah pikiran walau mereka udah ngotot juga supaya gue satu pikiran sama mereka. Akhirnya mereka cape sendiri dan gue juga iya-iya aja kalo udah cape dengerin argumen mereka. Dan akhirnya gue juga sering ditinggalin dan dianggap ga berpengaruh. Makanya, gue butuh orang yang bisa ngubah cara mikir gue dengan cara yang berbeda dari orang-orang yang selama ini berusaha ngubah cara mikir gue. Bukan orang yang setelah ga bisa nyamain pikiran bareng-bareng terusnya nyerah. Males sama pandangan gue yang terus-terusan beda.

Jumat, 22 Agustus 2008

sendiri

Gue posting ini abis gue marah-marah sama kedua orang tua gue, lagi-lagi. Padahal siangnya baru aja gue ngedengerin ceramah seorang ustadz di acara Isra Mi'raj di sekolaan gue. Sama kayak yang udah-udah, pas si ustadz mau udahan, pake acara beristighfar jamaah. Dan sama kayak yang udah-udah, selalu ada aja yang nangis. Gue juga sih, tapi HAMPIR. Sebab, dari awal ngikutin acara tahunan itu, perut gue keburu laper, mata gue ngantuk, badan cape, dan demi Tuhan, PANAASS banget! Di rumah aja kalo gue sholat yang suasananya adem dan tenang bisa ga khusyuk sama hal kecil, apalagi ini. Rame, gerah, ngantuk, laper, cape, bete.. Kayaknya otot-otot di badan gue udah nyerah duluan buat ngadepin gangguan maha ganggu itu.

Gue marah-marah karena -dan ini selalu jadi alesan gue marah-marah- gue pulang tanding, CAPE plus LAPER. Gue udah ngetok-ngetok pintu rumah, tapi ga ada yang bukain. Dari gue ngetok sambil mikirin laki gue nan jauh di sana, ampe gue ngebayangin itu pintu guru antropologi gue, pintu ga kebuka. Gue ngecek. Lampu kamar gue keliatan nyala dari luar. Berarti ada orang. Akhirnya, lantaran malu diliatin neneknya Fahrul (gue heboh banget ngetok pintunya!), lantas gue ke rumah nenek gue, numpang nelfon. Untuk yang bertanya, gue dalam masa demonstrasi sama orang tua minta dibeliin hp baru, jadi ga mau bawa hp kemana-mana. Katro sih emang.

Pas gue nelfon dari rumah nenek gue, bener aja. Bokap gue lagi tidur, terdengar dari suaranya yang parau maricha hehe. Hh!! Sumpah, udah mana tanding kalah penalti. SAKIT HATI. Kaki gue juga jadi salah urat, mesti bolak-balik sekitar 500 meter. Dan tetap dengan keadaan perut laper, siapa yang ga bisa nahan emosi? Gue paling ga bisa deh. Kalo lagi laper, gue mendingan diem aja daripada orang yang di deket gue jadi pelampiasan. Maksudnya kena bacot gue yang sadis, bukan untuk gue makan. Bodo amat deh orang-orang ngira gue gila, sakit jiwa atau apa, pokoknya nyampe dalem rumah dulu. Gue jalan sangat terburu-buru dengan rambut awut-awutan dan muka sedikit berminyak. Dan baju basah keringet. Ya, gue telah menjadi manusia sempurna. Sempurna Mild.

Akhirnya pintu rumah terbuka. Sumpah gue refleks, langsung aja gue gebrak tuh pintu dan ngeletakin tas seenak jidat. Rusuh deh. Dan akhirnya gue merasa berdosa banget sama bokap yang ada di depan gue saat gue melakukan semua itu. Tapi entah kenapa, dari dulu gue paling ga bisa nahan emosi kalo lagi laper.

Abis ngeliat kemurkaan dan kedurhakaan gue (ampun ya Allah. Maaf Yah..), bokap langsung ke atas lagi, ngelanjutin tidurnya yang terganggu sama anak ga tau diri ini. Gue sengaja ga makan di jalan, karena gue ngerasa emang bakal ada makanan di rumah. Sebab nyokap tau banget gue bakal kayak apa marah-marahnya kalo pulang ga ada makanan. Tapi kayaknya nyokap udah biasa dengan congor gue yang bisa nyebut kata apa aja, yang sanggup bikin orang yang berkerudung langsung buka kerudungannya dan head banging plus scream-scream, saking sadisnya omongan gue. Benar. Ga ada makanan di rumah. Buru-buru gue cuci muka, ga pake mandi, ganti baju, nyamber duit, langsung kabur nyari makanan. Ya, sendirian. Di jam setengah sepuluh malem.

Gue makan di warung tenda nasi uduk depan gang rumah nenek gue. Ya, nambah 500 meter lagi. Bodo deh tuh ibu yang jualan nganggep gue cewe apa, bisa-bisanya makan di tempat begituan sendirian. Awalnya gue juga risih sih. Kayak ga diurusin orang tua aja, nyari makan kayak gitu. Bodo, gue langsung mesen nasi uduk pake ayam goyeng plus es teh manis. Pandangan ibu nasi uduk itu makin aneh pas gue minta nambah nasi. Raut muka ibu itu antara aneh dan serem. Walah, gue disamain sama Raditya Dika. Haha.

Entah kenapa gue malah ngerasa beda aja dengan segala kesendirian gue itu. Bedanya itu yang gimana yah.. Ngerasa hebat aja kalo gue bisa ngelakuin semuanya sendiri, ga butuh minta ditemenin. Biarpun awalnya risih dan dipandang aneh sama orang lain, tapi gue seneng aja. Karena pada akhirnya kadang ngerjain dan kemana-mana sendiri itu lebih berasa, berarti gitu. Gue juga pernah muter-muter naek sepeda dalam rangka nunggu latian teater yang bertabiat telat, akhirnya gue berenti di tempat pangkalan ojek gitu. Gue jadi ngobrol sama salah satu tukang ojek yang umurnya sekitar 20-an gitu. Agak sakit hati juga gara-gara gue dikira lelaki cuma karena gue ngerokok. Cukup deh lo aja Bang. Kita ngobrol tentang banyak hal. Dari si tukang ojek (shit, gue lupa nanya namanya) nanya-nanya di mana rumah gue, kelas berapa.. ampe dia berargumen kalo cewe zaman sekarang kebanyakan pada matre, diawali dari dia curhat sering diputusin cewe pas si cewe itu tau pekerjaan si abang ini. Dan gue sendiri ngasih doktrin-doktrin kalo si abang sebaiknya main band aja. Kalo Kangen Band -yang KATANYA tukang cendol, modal gerobak aja- aja bisa segitu berhasilnya, apalagi si abang yang modalnya lebih keren, yakni motor bebek. Dan akhirnya debat seru kita mesti terhenti disebabkan si abang dapet penumpang.

Oh iya. Pas gue nunggu bis untuk pulang dari Senayan abis tanding yang tak kunjung datang, gue merhatiin tukang makanan dan minuman yang pelan-pelan diusir satpol dan banpol. Itu sekitar jam 7an, dan para pedagang itu milih ngeberesin dagangannya daripada diembat sama petugas. Gue heran. Setau gue jam segitu daerah situ masih rame. Beberapa saat sebelum akhirnya satpol PP itu tancap, pergi dari depan Menpora, ada seorang ibu yang bolak-balik pake sepeda. Tanda tanya di otak gue pun terjawab. Abis satpol PP itu ga keliatan lagi sama mobilnya, semua pedagang yang tadi entah ngumpet di mana, dateng lagi. Ngegelar dagagannya kembali. Ada tukang ketoprak, minuman, bakpau sama otak-otak. Walah. Gue baru tau tuh sistemnya kayak gitu. Mereka sama aja kayak gue. Ahli membohongi dengan bersembunyi lalu menunggu. Setelah gue berbohong, mari kita liat apa yang terjadi. Gue suka dengan sensasi yang ditimbulkan saat gue nunggu apa yang bakalan terjadi setelah gue berbohong. Deg-degan gitu, sama yang pedagang-pedagang itu rasain pas ngumpet, nunggu satpol dan banpol itu pergi. Dan lagi-lagi, gue menyadari akan tak-tik para pedagang itu sendirian. Tanpa ada seseorang pun untuk berbagi bahwa gue udah menyadari sesuatu yang awalnya ga gue ketahui sebelumnya.

Sebenernya masih banyak perjalanan atau kejadian yang gue lewatin tanpa seseorang di samping gue. Dalam banyak arti, gue emang bener-bener sendiri. Meski gue punya temen-temen yang nyenengin dan asik seasik TPI, heboh seheboh wim cycle, setia sesetia rexona, tetep aja selama beberapa tahun ini gue merasa sendiri. Dan gue seneng juga bangga sama kesendirian gue itu. Walau kadang bete dan sirik juga sama orang-orang yang kayaknya selalu ditemani seseorang di sampingnya. Tapi tetep deh gue ngerasa bangga akhirnya. Karena kadang kita mesti sendirian buat nyadar dan nemuin hal-hal yang ga pernah kita ketahui sebelumnya.

Dan gue sering merasakannya.

Selasa, 19 Agustus 2008

kalau nyawa belum terkumpul

Lagi, temen gue dari jaman perang, si Bebek, melakukan hal yang bodoh. Saking seringnya gue menyaksikan berbagai hal-hal bodoh seiring hari-hari gue emang bareng dia terus, gue jadi biasa dan ga aneh kalo ngeliat Bebek ngelakuin ini-itu yang orang lain anggap bodoh.

Beberapa hari yang lalu, setelah gue mendeklarasikan bahwa gue ga mau sekolah kalo ga dianterin bapak, gue agak telat masuk sekolah. Walaupun gerbang masih kebuka, gue tetep harus nunggu di depan kelas sampe waktu ngaji selese. Pas lagi asik-asik bengong ngumpulin nyawa, gue melihat sosok familiar nan horor itu. Bebek. Udah mandi blom nih anak? Kalimat itulah yang langsung terlintas di pikiran gue. Karena setau gue, gue, dia dan Iboy sering ga mandi kalo telat dateng sekolah. Oh, rambutnya basah. Berarti mandi.

Dia nyamperin gue dengan cengar-cengir luar biasa ga jelas. “Mot, goblog banget deh gue tadi,” sapanya. Wah, ga usah lo kasih tau, gue juga tau Bek. Pengennya bilang gitu, tapi akhirnya gue cuma ngomong, “Emang.” Setelah dia cerita apa yang menyebabkan dia sadar kalo dia goblok dengan ketawa dan tampang sekut, gue pun merasa begitu beruntungnya tidak ada di sampingnya pas kejadian goblok itu terjadi. Tapi gue masih bisa maklum, karena gue kalo jalan ke sekolah juga sering bengang-bengong lantaran nyawa belom 100% completed. Dan gue juga pernah mengalami hal bodoh ini.

Sama kaya gue, Bebek juga setengah ga sadar jalan kaki ke sekolah. Kenapa dia jalan kaki? Pertama, karena rumahnya deket banget, tinggal dia ngeludah, terus kepeleset sama ludahnya sendiri itu, bisa nyampe depan gerbang penjara, eh maksud gue gerbang sekolah. Sori, abis kadang gue sering bingung, selama ini profesi gue pelajar apa tahanan. Nah, jalan deh tuh Bebek dengan segenap rasa males. Pas di gerbang, di depan dia ada anak kelas X yang dianterin bapaknya naik motor. Pas turun dari motor, menurut cerita Bebek itu anak cium tangan sama bapaknya. Well, entah Bebek kangen bapaknya atau emang terlalu benga, dia ikutan salaman AJAH sama bapaknya anak kelas X tersebut. Udah gitu, si bapak itu juga hayo-hayo aja disalamin Bebek. Yah, ga pa-pa deh. Kita kan satu kota, satu tanah, satu negara, satu planet mesti saling bersilahturahmi.

Gue ga mencela Bebek secara berlebihan seperti biasanya karena gue sendiri juga pernah latah kaya gitu. Tapi masih mendingan gue, karena yang gue salamin udah kenal, yakni tukang ojek deket rumah gue. Sama kaya kasusnya Bebek, gara-gara bengong, terus ngeliat orang salaman sama bapaknya, gue juga nyalamin tukang ojek yang nganterin gue itu. Untungnya tuh tukang ojek emang udah bapak-bapak dan emang ramah sama orang, jadinya mungkin gue dan tukang ojek itu bisa maklum. Tapi untuk yang satu ini, mungkin Pak Ocat, si tukang ojek langganan gue, ga bisa maklum. Karena gara-gara latah ikutan nyalamin dia, gue jadi ga bayar jasanya dia! Malu juga pas gue inget belom bayar ojek gara-gara alasan yang bodoh itu.

Sedikit cerita tentang perkembangan Ernestito gue, si Fahrul yang gue anggep adek gue yang kedua. Makin lucu.. aja nih bocah. Sekarang dia udah bisa meragain buang ingus. “Fahrul.. Itu, ingus, ingus,” kata ibunya. Eh.. terus dia megang idungnya terus ngiba-ngibasin tangannya. Haha, sok tau banget tuh bocah shaolin. Dan kayaknya dia bakalan tumbuh jadi anak yang penyayang binatang. Karena kalo setiap ada kucing, dia bakalan bilang “Mpuss..” dan ngacangin gue. Mau gue akrobat depan dia juga, kalo udah ngeliat kucing, dia ga mau nengok kalo gue panggil. Kecil-kecil udah berani ngacangin gue. Dan gue tetep sayang sama dia.

epilog lebahati: keperihan munafik

sudahlah, memang bukan masanya

daripada menjadi sesuatu yang tak pernah kasat

hapuslah, pergilah engkau!

beribu syair berkiblatkan padamu

hingga jiwa ini tak lagi sanggup meramu

rerupaan yang kian semu

waktu yang pemalu menjadi saksi

atas semua kebisuan yang kita buat

berat dan mencuat

yang akhirnya membuat diri tak lagi kuat

kalau memang tak pernah kau rasa

jangan buat aku memiliki asa

tak pelak semuanya hadir untuk sia-sia

merenggut detik yang akhirnya terpejam

meredam, awak amarahku

teriakanlah “tidak!” itu

agar aku dan orang-orang itu tahu

apa yang kukorbankan bukan lagi sesuatu

tahu-tahu hanya batu

meringkuk lalu jadi busuk

epilog:

ya, berbohong dan menunggu

itu munafik

itu manusia, lebahati

ya, itu aku



*sumpah, "lebahati" gue sendiri yang bikin

Minggu, 10 Agustus 2008

si Fahrul, mamen

Wehehe! Untuk pertama kalinya Fahrul menginjakan kakinya di rumah gue! Dan... gue ngedapetin fotonya si shaolin gembul itu! Wuaha, my lovelyfatty Ernestito! :)



“Sini, aku mau foto sendiri aja, Kak!”

See? How lovely he is! Emang agak ga jelas sih. Abis dianya gerak-gerak mulu. Harus gue tularin virus narsis dari kecil nih bocah. Tapi mau seburem gimana pun, dia tetep lucu! Mmuach!!

Gue juga ga ngerti kenapa si Fahrul beda sama balita lainnya. Kalo ngeliat dia tuh.. ugh, ga perlu minum isotonik, tenaga gue pun pulih kembali. Apalagi kalo dia udah nyengir. Hadoh.. gemes banget gua! Giginya cuma empat, lagi. Terus pas dia di rumah gue, gue kasih unjuk aja foto gue masih kecil, biar serasa dia ngaca. Haha.

Gara-gara ini bocah, gue suka nyengir-nyengir semdiri kalo ngeliat anak kecil lagi digendong. Inget dia... terus! Gimana ini? Gue jatuh cinta sama lelaki yang beda 15 tahun dari gue! Gue jadi pengen punya adek lagi. Malahan sempet kepikiran gimana kalo gue ntar punya anak.

Well, pasti itu anak berayahkan Rektivianto Yoewono (halah. Ngimpi). Gue mau dia sipit, putih, sehat, kalo cowo ganteng kaya ayahnya, kalo cewe cantik kaya bundanya dan jadi anak pinter. Udah jelas, gue mau dipanggil ‘Bunda’, sedang laki gue ‘Ayah’. Dari kecil gue ajarin bahasa Indonesia juga bahasa Inggris. Biar ntar lancar, ga perlu les-les lagi. Terus kalo udah bisa dua bahasa itu, pas umurnya udah balita, gue ajarin bahasa asing lain, kaya Perancis. Wah, betapa cerdasnya anak gue nanti.

Kalo dia udah balita, gue mau sekeluarga sering jalan-jalan. Biar si anak peka sama keadaan sekitarnya. Terus, walau gue agak ga percaya, tapi boleh juga kalo pas dia masih dikandungan, gue kasih denger lagu-lagu bikin ngantuk macem karya Mozart atau Bethoven. Kalo ga mempan, yoweis. Langsung aja gue kasih lagu laki gue dan temen-temennya, The S.I.G.I.T. Waha, keluar-keluar itu bayi gue pakein kaos gambar Jim Morisson sekalian. Wah, keren juga tuh. Rock n roll baby banget. Haha, ya ngga lah.

Gue pengen semua peralatannya berwarna biru, ijo sama cokelat. Warna alam gitu dwech. Lucu abis kan? Terus dia juga ga boleh makan snack-snack ga sehat, kaya chiki gitu. Pokoknya hidup sehat lah.

Weleh, jadi ngelantur. Oiya, si Fahrul udah bisa nanyi Balonku Ada Lima, walaupun masih patah-patah. Tapi tetep aja buat gue suaranya ga kalah bagus sama Bang Benyamin. Dan gue juga berhasil nyium pipi gembulnya. Wehehe.. How deep is my love..

rasa tanpa jeda

Gara-gara Mariteng baca dan nanya-nanya tentang Minang biru, gue jadi inget dan kangen luar biasa sama Minang biru. Begitu banyak yang bisa gue ceritain tentang perempuan satu ini. Dan gue bisa nyeritain semuanya di luar kepala, ga pake contekan.

Yang jelas, Minang birulah yang ngebuat gue :

1. jadi kenal air mata

2. suka Beyonce. Si Lenjeh bilang Minang biru mirip Beyonce

3. sakit typus yang kedua kalinya. Gue jadi jarang makan

4. semangat belajar. Pengen ngalahin dia

5. jago bikin puisi. Satu-satunya temen gue waktu itu cuma kertas

6. ngerokok. Satu lagi fakta, stres bikin orang ngerokok

7. jago begadang. Ga bisa tidur lantar sakit hati berat

8. nari tradisional di acara perpisahan SD. Untuk alasan terbodoh yang tak terungkapkan

9. nonton Tentang Dia

10.makin cuek sama orang lain

11.suka film Mengejar Matahari

12.selalu tersenyum ngeliat rumah susun manapun. Dia tinggal di rumah susun

13.bisa main bulu tangkis. Lagi, pengen ngalahin dia

14.malem-malem nyariin dvd kesukaan dia. Untuk kado dia ulang tahun

15.suka menyakiti diri sendiri. Lagi, stres bikin gila

16.bisa main suling. Ga mau kalah dari dia

17.semangat hidup, tapi juga bisa bikin males hidup

18.pake kebaya dan sendal hak tinggi pas Kartini-an. Pengen buktiin kalo gue ga selelaki yang dia pikir

19.beli salah satu albumnya Iwan Fals. Dia suka nyanyi Oemar Bakrie

20.bela-belain dateng ke reunian SMP, padahal cecunguks lagi pada main di rumah gue. Ngarep ketemu dia lagi

21.selalu senyum kalo ngeliat power puff girls. Dia suka banget sama ppg

22.kebal sama kata-kata yang bikin sakit hati. Karena dia pernah lebih nyakitin gue dari siapapun

Minang biru. Nama yang selalu berhasil nunjukin sisi munafik gue. Kita sama-sama pengen bisa bertemen lagi, tapi tiap denger nama satu sama laen, yang ada sok ga kenal dan masing-masing nganggep ‘ih.. dia siapanya gue??!”. Dan kayanya juga udah satu angkatan yang tau ‘ada apa dengan kita?’. Dari sekian yang nanya, cuma beberapa lah yang bisa gue kasih tau yang sebenernya.

Buat gue, cukup 3 kata buat ngeringkas siapa Minang biru dalam idup gue : loveable, hurting, unforgettable. Yang paling nyenengin sekaligus paling nyakitin dan yang pasti ga bakal pernah bisa gue lupain. Seorang Minang biru itu ga bakal ada yang bisa gantiin posisinya dalam kehidupan gue. Dia tuh kaya pengendali awal terbentuknya perubahan dalam idup, perkembangan, dan juga cara mikir gue. Yang akhirnya ngebikin gue ngerti apa yang awalnya gue ga pernah bisa ngerti. Sesuatu yang dulunya tertutup bisa kebuka sama apa yang udah dia perbuat ke gue.

Minang biru itu sesuatu yang ga bisa keulang di setiap jengkal idup gue yang udah, sedang, dan akan gue lalui. Dia itu sesuatu yang ngebikin gue lebih idealis dari org lain karena ga semua orang bisa ngdapetin penglaman yang sama kaya gue sama dia, karena ga semua orang bisa ngerasain apa yang gue rasain sama dia, karena gue satu- satunya orang yang berusaha untuk selalu ngeliat di tempat yang paling bener walau itu semua gue lakuin di balik kemunafikan gue, karena gue yang paling peduli sama dia lebih dari yang dia, temen-temennya, atau siapa pun tau.

Minang biru itu kaya peluru yang nancep di badan seseorang pejuang pas perang. Semakin banyak peluru yang nancep, semakin dia semangat buat merjuangin hak dia bareng rakyat laennya. Jadi semakin dia nyakitin gue, sampai kayanya gak ada lagi bagian hati, pikiran, badan, juga waktu yang bisa dia ambil dari gue, semakin semangat juga gue buat idup, buat nyari sama yang berakhiran dengan tanda tanya, buat ngegali sesuatu yang ketimbun di bawah sana, dan gue bisa nemuin jawaban dari semua yang gue ga ngerti kenapa, bagaimana, dan kapan.

Dan gue selalu merasa paling tolol karena perbuatan gue itu. Dan setelah gue sadar, gue ga lebih tolol dari orang itu yang ga pernah ngerasain apa yang gue rasain. Gue ga lebih tolol dari orang yang ga pernah usaha apa-apa untuk ngedapetin jawaban yang dia pengen. Walau pada akhirnya apa yang gue pertanyakan ga sepenuhnya terjawab. Seenggaknya gue udah berjuang dengan apa yang bisa gue perjuangin.

Dan satu yang gue tau, yang gue ga mau untuk gue raguin lagi: gue kangen Minang biru!! My (ex)best friend. Bet her too.

Selasa, 05 Agustus 2008

lebahati

lebahati 1

pada akhirnya tak satu pun kata yang terdengar

hanya senja meranggas malam, habis ranggas kemudia pecah

hanya gemerisik jiwamu yang tak redam olehnya


pada akhirnya tak satu pun kata yang terucap

hanya biji matamu yang seredup hatimu

yang lalu terbenam menusuknya bulan


kalau malam tak sanggup menimba

apa fajar tetap sembunyi di bawah kakinya

tak elak ia hadir tanpa tembakau menyala

ranumnya daun hitam menjamah paru-paru

benarkah itu ronamu yang dulu


yang kemudian tumpah ruah

di sudut mata agungmu

hati ini hanya sanggup menguncup

sembunyi di balik mulianya perasaan


terdiam

tenggelam

terpejam


pada akhirnya tak satu pun kata yang terbilang

hanya keegoisan ini yang sanggup merajammu

juga menampungmu


pada akhirnya tak satu pun yang kita lakukan

kecuali cinta


lebahati 3

sejak kapan cinta dilarang

sejak tuhan tahu dia akan minum racun

ketika samua akhirnya ada

tapi atas segelombang dayu perih


sejak kapan cinta dinista

sejak dia ingin menikahi induknya sendiri

jejer gunung pecah oleh perihnya

daun ranggas bukan cokelat, putih


sejak kapan cinta dipertanyakan

sejak jasadnya lahir

namun rerupaan tak suatu pun untuk dijamah

berat hati menumpu satu sudut


sejak kapan cinta dilarang

sejak itu engkau

lebahati 4

ketukan di dahi rampas sisa dentum

temuan hati terka aroma tubuhmu

tunduk asa tampak air

itu mengapa lagi-lagi?

suatu penerangan pecah seribu kemelut

temuimu, kilas binar nanarmu

tak kuat hati memandang

sembunyi riuhnya lelucon

maaf, bukan makna ini untuk remukanmu

hanya satu retakan kemudian lainnya

engkau mengapa lagi?


lebahati 5

setiap detik mengalir padamu

gelak redup segala sakit

bahwa apa yang lintas lalu

bukan untuk kemudian pahit

tapi hanya pamit


gelak redup segala retak

rindu hanya sejengkal janji

tak semua yang ada di otak

ada di hati


layaknya engkau

untuk sang pemudar biru

Cabut Tergoblok

Pas bangun tadi, gue langsung denger jejaknya alias suara sepatu si Fahrul, yang semua anak kecil punya. Yaitu sepatu yang tiap kali diinjek ngeluarin suara tikus kejepit. Tapi kalo Fahrul yang make bunyinya jadi kayak nad-nada yang bisa ngalahin karyanya Bethoven. Halah, ga berlebihan gitu juga sih. Dan pas gue nulis konsep posting ini (2/08, 8.30 am), gue sambil ngedengerin ocehannya si Fahrul, my Ernestito. Pengen sehari aja si Ernestito dititipin di rumah gue. Pastinya gue foto-fotoin, gue rekam suaranya, dan kalo perlu gue videoin dia sambil gue suruh joget-joget Mulan Jameela. Karena si Fahrul makhluk Tuhan paling sekseehh..

Dan setengah jam dari sekarang, gue mesti mulai kerja rodi lagi. Hari ini deadline sialan!! Karena 55 jam dari sekarang, sekolah gue akan mentas di depan sekitar 200 manusia. It's time to start, it's time to stop/It's time for bright, it's time for dark. But time is not ticking in here.

Kali ini gue pengen berbagi ketololan temen gue. Jadi gini, gue, Bebek, Mariteng, dan A’thoina berniat cabut pas pelajaran seni kaligrafi. Pelajaran macam apa itu? Yah, jangan heranlah. Masih banyak yang lebih ajaib dari itu di sekolah gue yang yunik itu. Semua yang kita kerjain pun sengaja dilama-lamain. Yah, kalo ga berhasil cabut dua jam pelajaran, minimal telat sejam pelajaranlah. Makan, dilamain. Abis makan, niat sholat, jalannya dilama-lamain. Pas sholat, gue ngusulin jamaah aja. Selain dapet pahalanya lebih banyak, ini termasuk cara mekngulur waktu yang bagus juga, bukan? Ditambah lagi gue berharap yang jadi imam tau maksud usulan gue, yakni ngelamain sholatnya.

Kebetulan, pas kita lagi ribut karena ga ada yang mau jadi imam, dan ada guru agama yang mau sholat juga, Bu Ketimun. Jadilah kita semua setuju supaya Bu Ketimun aja yang jadi imamnya. Dan nampaknya terbukti bahwa Bu Ketimun bisa membaca pikiran orang yang ada disekitarnya. Buktinya aja, gue belom selese baca Al Fatihah, dia udah rukuk. Tau aja kita mao ngelama-lamain sholat. Untungnya selese sholat, Bu Ketimun ga curiga sama kita dan ga nyuruh kita buru-buru balik ke kelas.

Sebelum pergi dari mushola, Bu Ketimun ngaca dulu dah tuh, ngerapin jiblabnya. Eh, tiba-tiba temen gue, sebutlah si Ngayam, yang batapia abis, masuk mushola sambil ngomong : “Udeh, kaga usah masuk kelas aje sekalian,” dengan agak keras. Weleh, weleh. Langsung aja gue tepok pantatnya, dan nunjuk ke depan kaca. Dan dengan ironisnya, langsung aja dia minjem mukena yang abis dipake Bebek. Padahal dia belom wudhu dan emang ga niat sholat. Melainkan niat CABUT KE MUSHOLA. Oke, gue masih bisa nahan ketawa karena di situ masih ada Bu Ketimun. Terus Ngayam sok-sok bilang “Eh, tungguin gue lo ye pada!”. Begitu Bu Ketimun keluar mushola, BHAHAHAHAHAHAHAAAA!!!!!!!!

Sumpah, goblog banget najis! Ga ada kata-kata lain yang pantes menggambarkan tampang si Ngayam : SEKUT. Hahaha! Dongo deh. Kocak banget. Mau diiinget berapa kalipun, gue dan yang ada di mushola waktu itu pasti ketawa terus.

one day, when the sun rises again ..


Stupido Ritmo

Words & Music by Hotma Roni Simamora.

Music Arrangement by W. Benyamin & and Raymond A.S.


You and I painting rainbows when no rain falls on our wall

Smelling raindrops on a hilltop as they fall

You and I laughing loudly with no reasons in our walk

Chasing sunsets, dancing minuet in the dark

Why don't we just disappear

If that could keep us here?

You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts

Writing love words with our whispers in our hearts

You and I stealing kisses from each other when we fight

Making wishes on the same star every night

Why don't we just dream away

If that could make us stay?

Why can't we just dream away?

We're not real, anyway

ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta

ra ta ta ra ta ta ta ra

ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta

ra ta ta ra ta ta ta ra

Why don't we just stay this high?

Pretend we're all that fly

Why can't we just stay this high?

We might rule our own sky

You and I singing solo our very own silly song

Playing lovers of all edens all life long

All life long

All life long

Lagu di atas itu salah satu ost.nya 3 Hari untuk Selamanya. Sesuai sama lagunya, di ujung film ada hubungan yang ga boleh dijalin oleh sesama sepupu. Cinta terlarang gitu dwech.. Well, di sini gue bukan mau cerita kalo gue suka sama sepupu gue. Melainkan tentang seseorang yang sering gue julukin Minang biru. Mungkin dia ga bakalan setuju kalo gue nulis tentang dia secara publikatis gini. Tapi, kayaknya emang gue ngerasa ini tuh cerita yang mungkin cuma bisa terjadi sama gue dan dia. Dan bagi gue ini bukan aib atau apalah yang sering dia sebut untuk satu pengalaman ini. Sumpah, gue normal. Gue masih demen batangan, bo.

Sekitar 5 tahun yang lalu, waktu gue masih pake putih-merah kelas 6 tepatnya, gue punya –oke, geng. Terdiri dari 4 cewe yang sahabatan, yang selalu masuk 10 besar, yaitu gue, si Minang biru itu sendiri, si Lenjeh dan Mba Kane. Kita udah kayak F4 dah. Keman-mana itu selalu berempat. Makan, sholat, belajar, ampe ke toilet pasti berempat. Kita ngerasa ga ada yang ga suka sama keberadaan geng kita itu. Kita juga ga rese atau terlalu heboh kalo kita bergeng dan harus selalu berempat. Gue dan yang tiga lainnya juga sering main sama anak yang lain. Waktu itu, gue sekelas sama 23 anak lainnya. Enak banget, sepi, kayak kelas internasional gitu. Mao belajar ape juga, gue ngarti-ngarti aje. Udah gitu kan yang ngajar wali kelas, kecuali olahraga, bahasa Inggris dan pendidikan agama. PW banget deh. Makanya gue dapet ranking terus.

Lanjut, di antara berempat itu, Mba Kane yang paling bisa buat tempat curhat, karena dia yang paling tua makanya paling bijaksana. Padahal sih cuma beda 2-3 bulan doank sam gue dan yang lainnya. Dan ampe detik ini, dia doank yang bener-bener masih ada kontak sama gue. Si Lenjeh dan yang paling gue seselin tentunya, si Minang biru ga tau kemana. Dan waktu akhir kelas 6, gue sama Minang biru musuhan. Ini bukan musuhan biasa kayak anak sd lainnya. Sampe 3 kali lebaran, kita ga pernah jadi sedeket dulu lagi alias ga tegor-tegoran.

Waktu itu rencana kita berempat, setiap minggu kita belajar kelompok untuk ngadepin general test (test buat dapetin NEM masuk SMP). Pertama, di rumah Kane. Terus minggu berikutnya di rumah Lenjeh, gue dan Minang biru. Nah, pertama kali belajar bareng diadain di rumah Kane. Pas balik dari rumah Kane, gue dan Minang biru kan rumahnya searah, jadi kita naik bemo beduaan dah tuh. Tau gak? Besoknya tiba-tiba Minang biru nyuekin gue. Dan tau kenapa? Gue baru tau alesannya pas dua hari kemudian, itu juga lewat Kane. Alesannya : gue tomboy banget, cowo abis. ?? Ekspresi gue pas tau itu : alis kiri gue ke atas, jidat gue berkerut, idung gue mekar, mulut nganga. Ngeden deh. Lha? Itu mah tampang gue pas boker. Ga lah. Gue bingung banget. Sumpah, gue bingung mau ketawa apa ngapain. Masalahnya itu alesan kocak banget, ga masuk akal. Gue tomboy? So what? Gue cowo abis? So what? Lo lapar? Somay. Gue lucu? Bwangetd kallee..

Well, biasa.. anak sd. kalo musuhan tuh kayaknya ga seru cuma berduaan doank. Jadinya si Minang biru menghasut temen-temen cewe sekelas lainnya. Bilang gue ga normal lah, ga banget lah, tapi pada akhirnya dia bilang gue yang paling asik sekelas dan merasa kehilangan gue juga. :) Akhirnya, selama sisa hari-hari gue di sd cuma seputar baean-ngobrol ngumpet-musuhan lagi sama si Minang biru. Abis baean, kita ngobrol-ngobrol lewat sms sama telepon doang. Nah, pas ngobrol-ngobrol gitu, dia tuh sering salah paham terus akhirnya diem-dieman lagi. Cape gue ngadepin dia. Tapi entah kenapa dan sampe sekarang gue juga masih ga ngerti, kenapa gue selalu mau-mau aja kalo dia ngajak baikan.

Berlanjut sampe 3 tahun ke depan karena Tuhan dengan mudahnya bikin gue sama dia satu sekolah lagi. Tapi gue berasa banget bisa ngalahin dia soalnya peringkat gue masuk SMP itu lebih tinggi dari dia. Udah gitu gue dapet ranking kelas dua tingkat di atas dia. Dan makin kompleks aja masalah yang kita bawa ke SMP. Gue ga bisa nyeritain secara mendetail apa-apa aja yang udah terjadi 3 tahun itu. Ga yang aneh-aneh juga. Palingan yang aneh, walaupun kita perang dingin tapi tetep saling ngasih kado juga pas ulang tahun. Kayaknya hampir satu angkatan tuh tahu kalo gue musuh bebuyutan sama dia. Wong kalo gue mau lewat ada dia, gue pasti cari jalan yang ga ada dianya, juga sebaliknya. Nyusahin sih, tapi karena udah sering, gue sama dia tuh kayak refleks aja kalo papasan langsung balik badan, pura-pura ga ngeliat. Terus gue juga sering ngata-ngatain dia sama gengnya yang menurut gue dan duo maio (Bebek dan Iboy) ga penting banget. Sampe-sampe pas Iboy sempet sekelas sama Minang biru, gue ngata-ngatain Minang biru lewat Iboy dengan kata-kata yang sampe sekarang gue nyesel kenapa harus keluar dari mulut gue untuk Minang biru.

Dan selama itulah gue ga pernah denger dia manggil nama gue lagi. Sedih banget kalo nginget dulunya gue sering becanda bareng, ngejailin temen sekelas, dan belajar bareng dia. Mungkin dulu kita masih terlalu kecil dan terkontaminasi sama media-media yang ga bener, makanya si Minang biru itu sampe mikir gue yang nggak-nggak.

Jadi intinya, sama kayak lagu Stupido Ritmo, sebenernya dia itu mau banget gue sama dia kayak dulu lagi, sahabatan, tapi dia gengsi untuk nunjukinnya dan cuma gue doang yang tau hal itu. Guenya juga sok-sok gengsi kalo dia udah ngeliatin sinyal mau memperbaiki hubungan kita berdua, padahal sih nagrep abis mau bisa deket sama Minang biru lagi. Dan entah kenapa setiap gue papasan sama dia, air mukanya (jah elah!) kayak ngomong : “Udahlah, sembunyiin aja”. Tapi kita sama-sama tau lah kalo kita tetep sayang satu sama lain. Bahkan Tuhan pun lupa kenapa gue selalu ngalah sama dia. Sampe gue sendiri juga lupa sama suara si Minang biru.

Dan udah setahun ini gue ga pernah liat sosok itu lagi. Sosok yang satu-satunya orang di luar keluarga gue yang gue apal di luar kepala nomor telfonnya. Sosok yang ga pernah bisa gue lupain. Sosok yang sekarang makin ga terjangkau. Sosok yang bisa bikin gue sakit ati dan kangen juga dalam waktu yang bersamaan kalo nginget dia. Sosok yang sekarang ini plaing pengen gue temuin. Dan sosok yang ga akan tergantikan oleh siapa pun itu. Karena adanya Minang biru itu jadi suatu kenangan tersendiri yang nano-nano rasanya buat gue. Kalo orang bilang bekas pacar itu ada, tapi bekas temen ga ada, agak ga tepat juga. Karena Minang biru bukan bekas temen gue, tapi bekas sahabat gue. Bahwa ga semua hubungan yang dulunya baik-baik aja, semurni apapun itu, kalo rusak bisa diperbaikin lagi kayak semula.

O iya, kenapa Minang biru? Karena gue inget banget, waktu ada acara Kartini-an di sekolah, dia pake baju Padang warna biru.