Selasa, 05 Agustus 2008

lebahati

lebahati 1

pada akhirnya tak satu pun kata yang terdengar

hanya senja meranggas malam, habis ranggas kemudia pecah

hanya gemerisik jiwamu yang tak redam olehnya


pada akhirnya tak satu pun kata yang terucap

hanya biji matamu yang seredup hatimu

yang lalu terbenam menusuknya bulan


kalau malam tak sanggup menimba

apa fajar tetap sembunyi di bawah kakinya

tak elak ia hadir tanpa tembakau menyala

ranumnya daun hitam menjamah paru-paru

benarkah itu ronamu yang dulu


yang kemudian tumpah ruah

di sudut mata agungmu

hati ini hanya sanggup menguncup

sembunyi di balik mulianya perasaan


terdiam

tenggelam

terpejam


pada akhirnya tak satu pun kata yang terbilang

hanya keegoisan ini yang sanggup merajammu

juga menampungmu


pada akhirnya tak satu pun yang kita lakukan

kecuali cinta


lebahati 3

sejak kapan cinta dilarang

sejak tuhan tahu dia akan minum racun

ketika samua akhirnya ada

tapi atas segelombang dayu perih


sejak kapan cinta dinista

sejak dia ingin menikahi induknya sendiri

jejer gunung pecah oleh perihnya

daun ranggas bukan cokelat, putih


sejak kapan cinta dipertanyakan

sejak jasadnya lahir

namun rerupaan tak suatu pun untuk dijamah

berat hati menumpu satu sudut


sejak kapan cinta dilarang

sejak itu engkau

lebahati 4

ketukan di dahi rampas sisa dentum

temuan hati terka aroma tubuhmu

tunduk asa tampak air

itu mengapa lagi-lagi?

suatu penerangan pecah seribu kemelut

temuimu, kilas binar nanarmu

tak kuat hati memandang

sembunyi riuhnya lelucon

maaf, bukan makna ini untuk remukanmu

hanya satu retakan kemudian lainnya

engkau mengapa lagi?


lebahati 5

setiap detik mengalir padamu

gelak redup segala sakit

bahwa apa yang lintas lalu

bukan untuk kemudian pahit

tapi hanya pamit


gelak redup segala retak

rindu hanya sejengkal janji

tak semua yang ada di otak

ada di hati


layaknya engkau

untuk sang pemudar biru

Tidak ada komentar: