lebahati 1
pada akhirnya tak satu pun kata yang terdengar
hanya senja meranggas malam, habis ranggas kemudia pecah
hanya gemerisik jiwamu yang tak redam olehnya
pada akhirnya tak satu pun kata yang terucap
hanya biji matamu yang seredup hatimu
yang lalu terbenam menusuknya bulan
kalau malam tak sanggup menimba
apa fajar tetap sembunyi di bawah kakinya
tak elak ia hadir tanpa tembakau menyala
ranumnya daun hitam menjamah paru-paru
benarkah itu ronamu yang dulu
yang kemudian tumpah ruah
di sudut mata agungmu
hati ini hanya sanggup menguncup
sembunyi di balik mulianya perasaan
terdiam
tenggelam
terpejam
pada akhirnya tak satu pun kata yang terbilang
hanya keegoisan ini yang sanggup merajammu
juga menampungmu
pada akhirnya tak satu pun yang kita lakukan
kecuali cinta
lebahati 3
sejak kapan cinta dilarang
sejak tuhan tahu dia akan minum racun
ketika samua akhirnya ada
tapi atas segelombang dayu perih
sejak kapan cinta dinista
sejak dia ingin menikahi induknya sendiri
jejer gunung pecah oleh perihnya
daun ranggas bukan cokelat, putih
sejak kapan cinta dipertanyakan
sejak jasadnya lahir
namun rerupaan tak suatu pun untuk dijamah
berat hati menumpu satu sudut
sejak kapan cinta dilarang
sejak itu engkau
lebahati 4
ketukan di dahi rampas sisa dentum
temuan hati terka aroma tubuhmu
tunduk asa tampak air
itu mengapa lagi-lagi?
suatu penerangan pecah seribu kemelut
temuimu, kilas binar nanarmu
tak kuat hati memandang
sembunyi riuhnya lelucon
maaf, bukan makna ini untuk remukanmu
hanya satu retakan kemudian lainnya
engkau mengapa lagi?
lebahati 5
setiap detik mengalir padamu
gelak redup segala sakit
bahwa apa yang lintas lalu
bukan untuk kemudian pahit
tapi hanya pamit
gelak redup segala retak
rindu hanya sejengkal janji
tak semua yang ada di otak
ada di hati
layaknya engkau
untuk sang pemudar biru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar