Well, sama sekali bukan hak sepatu maksudnya. Maksudnya, hak gue sebagai pelajar. Dan semoga sebentar lagi gue akan menggenggamnya. Fakta bahwa orang semakin tua semakin berjiwa diktaktor, makin gue yakini. Gini lho. Gue masuk jurusan bahasa dan budaya di sekolah gue. Kenapa? Padahal kan gue pinter? Gue kan mampu? Padahal gue kan keren? Halah. Karena gue ngincer bahasa Perancis, kan malu sama suami nanti ga bisa bahasanya dia. Dan ternyata begitu gue dapet catetan mata pelajaran kelas gue, yang ada di sana Pariwisata, not a Perancis. Oke, gue masih bisa (sok) excited lantaran Mariteng bilang itu pelajaran ga kalah asik sama Perancis dan TPI. Tapi nyatanya beberapa kali pelajaran itu terlewati di kelas gue, gue makin heran : kok ini guru tau semua tentang hotel sih? Gue tidak mau berfikir yang jelek-jelek seperti kakak kelas gue, tapi gue mikir yang buruk-buruknya aja. Dan pertanyaan yang paling penting dan selalu mengganjal di hati ini setiap mau tidur : kenapa korbannya malah Perancis yang terang-terangan di sanalah masa depan gue (biasa.. mimpi.). Dan sampai sekarang gue tidak mendapatkan jawaban yang bisa melegakan hati ini.
Makin yakin oleh pernyataan gue di atas, Kepala Sekolah baru dengan cerdasnya mengganti pelajaran seni musik dengan seni kaligrafi untuk seluruh siswa kelas XI. What the heck? Pelajaran macam apa itu? Yang ada setiap pelajaran itu, gue bersama penggugat lainnya atas dirampasnya hak kami sebagai pelajar, kami dicap PENGANGGURAN oleh guru gue yang sempet jadi tokoh utama di serial Jin dan Jun.
Akhirnya dilatarbelakangi keletihan gue memaki-maki dan pelarian diri dari kedua pelajaran itu, gue mengambil langkah yang bisa menyelamatkan gue dan temen-temen seangkatan gue. Gue ditemani Mariteng protes dan mencurahkan segala kegelisahan hati selama ini kepada wali kelas gue yang udah mirip Nirmala, baik dan pengertian sekali. Kami mau hak kami sebagai pelajaran yang mencari ilimu dan yang membayar dikembalikan. Wong ga bisa seenaknya toh, gonta-ganti jenis pelajaran. Mungkin gue masih bisa menerima kalau sebelumnya pergantian itu dirundingkan besama kami, siswa-sisiwi, dan hasilnya sebagian besar dari kami menyetujui perubahan itu. Tapi apa? Kami TIDAK SAMA SEKALI diberitahu atas perubahan itu. Akhirnya yang ada gonjang-ganjing di belakang, membuat diri gue dan teman- teman jadi dosa terus, karena mau ga mau mencela pelajarannya karena ketidakpuasan kami.
Setelah gue anggap cukup apa yang seharusnya gue sampaikan ke wali kelas gue yang begitu gue sayangi, Frou There, gue pun langsung menyebarkan bahwa gue dan Mariteng sudah protes atas nama XI IPB dan jurusan lainnya yang seangkatan. Sumpah, gue berasa jadi Gie gitu deh, sudah menjadi yang berani bicara dan meminta hak gue sepenuhnya sebagai pelajar. Dan setelah gue ngomong, Frou There bilang akan mengajukan permohonan gue ke wakasek, dan bener aja. Frou lagsung menuju ruang wakasek. Gue senang sekali akhirnya ada yang mau mendengarkan dan membantu gue untuk merealisasikan pengembalian hak kami. Walau Frou bilang, gue dan teman-teman harus tetap mengikuti pelajaran kaligrafi dulu sampai ada keputusan.
Begitu gue keluar kelas kesenian, gue langsung nyari Frou. Wah, makin merasa kemenangan sebentar lagi milik gue dan yang lain lantaran Frou bilang, Bu Tuti, guru yang menjadi seksi kesiswaan bakalan masuk ke kelas gue dan XII IPB untuk mrmbicarakan hal ini. Dan gue siap untuk membuat Bu Tuti merubah pelajaran yang seharusnya kami dapatkan dengan berbagai argumen.
Dan sekarang, gue dan teman-teman hanya bisa menunggu. Apakah hak kami akan kembali ke tangan atau kembali dirampas? Kami tidak tahu. Tapi gue berusaha sekeras mungkin ngedapetin apa yang seharusnya diberikan untuk gue dan teman-teman.
Selasa, 26 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar