Senin, 15 September 2008
Catatan Saya “Pemikiran Karl Marx” 1
Agaknya sekarang saya mulai mengerti mengapa Soekarno memperbolehkan dan mendukung keberadaaan komunisme di negara ini dalam wujud Partai Komunis Indonesia. Bahwa di beberapa negara, komunisme-sosialisme bisa meratakan berbagai aspek negara dalam ukuran yang sama sehingga tidak lagi tercipta bentuk-bentuk kejahatan dan ketidakadilan. Meski pada akhirnya Soekarno harus menerima kenyataan bahwa komunisme tidak dapat hidup, tumbuh ataupun bertahan di negara republik demokratis ini.
Komunisme jarang bertahan lama di suatu negara, di mana dahulu sekitara akhir abad ke-19 sebagian besar negara di dunia belum memiliki sisetem pemerintahan yang pasti. Meski pada saat dianut komunisme menawarkan semua kerataan di seluruh aspek sosial, komunime terlupakan seiring berjalannya waktu dan bermunculannya ideologi-ideologi yang lebih demokratis sebagai landasan sebuah negara. Karena pada kodratnya manusia itu tidaklah sama dan malah karena perbedaan itulah kita disebut manuisa dan bisa saling melengkapi.
Di dalam buku ini juga mejelaskan tokoh-tokoh yang mempengaruhi cara berpikir Marx. Dari kesepuluh tokoh, yang paling saya sukai adalah Pierre-Joseph Proudhon, seorang sosialis Perancis. Menurut saya, pemikiran Proudhon lebih “manusiawi” dan lebih masuk akal dibanding yang lainnya. Dia tidak menyukai bentuk pemberontakan apapun yang sering dielu-elukan oleh sosialis lainnya. Menurutnya, buruh atau rakyat kecil pekerja masih boleh memiliki hak milik pribadi, namun kaum borjuis harus melepaskan hak mlik pribadi mereka yang merupakan hasil penghisapan.Dia mengharapkan kebebasan buruh muncul dari pengorganisasian kaum mereka seperti dengan adanya koperasi, bukan dengan pemberontakan.
Senin, 08 September 2008
(sok bisa) ngeband
Personel
Bebek : bass (karena ga bisa, main pianika aja), vokal (pastinyah..)
Saya : gitar (karena ga becus, main petak umpet aja), vokal
Iboy : drum (karena ga ngerti, main hati aja, sahelahh..), vokal
(Pilihan) nama band
ASI : paling ringkas ,singkatan nama kita bertiga
3 daraH : paling plesetan
the Surachmans : paling NONJOK
v-jayna : paling familiar
the Kumbangs : paling ga kreatif, dari the Beatles
DJ o-Rock : paling bau (temennya DJ uba, hehe..)
Iboy : paling IMO3T
Bebek : paling G40L
Saya : paling waras
cumi : cuma mingkem
Eh serius-serius. Nama inilah yang paling mantaps.. :
MASAKAN IBU. Paling enak soalnya.
aliran: lipsing
bisa musiknya The Used, The Beatles, J-Rocks, Club Eighties, bahkan sampe musiknya Didi Kempot, hayyoo.. Tapi kami kalau latian biasa mainin lagu “Janjimu Seperti Fajar Pagi Hari” karena suara Bebek di lagu ini handal banget dengan sentuhan lengkingan-lengkingan indah bikin muntah.
gigs (tempat manggung, mba) andalan
Marotii, de Javu? Ah, biasa..
Woodstock? Lewat..!!
Sunatan? Ini yang paling handal, mafren..! Dibayar, dikasih makan pula!
Tapi tetep aja masih khayalan. Hahaha.
budaya politik di negara saya
sorry, we can’t do this. sorry, sorry, we can’t do that. who made this rules and this policy? are they so good? are they so great? well, oh no. thank you, thank you for making this life is so crowded. we do something ‘cause they tell us to. we can do something but they tell us not to. we can do something but they said is nothing. well, what would we do? goal is going got collusion, go! get your felt “Real job,”. this up the rules you have to live in, you have detail with. maybe you’re smart but that doesn’t mean a thng. ‘cause what they want is your degree. close ‘em with your money. and that calls a policy.
what goes around you, comes around you. so trying to be good to anyone.
yeah. that calls rules and policy.
Sabtu, 06 September 2008
Bohong, munafik.. itu manusiawi
Dan saya lebih merasa tidak sendirian karena Mas Samuel juga tak ragu memaparkan kebulusan, kejahatan, keburukan, atau apapun maksudnya, yang ia lakukan berikut alasannya kenapa ia melakukannya. Yang akhirnya malah membuat pembaca malu dan berkata nyinyir dalam hati, “Wah, gue banget nih.” Lalu pembaca tersebut mulai mencoba menulis dan memaparkan secara jujur, seperti Mas Samuel. Haha, itu mah saya.
Buat saya, gaya penulisan Mas Sam itu sebuah pilhan yang mendobrak sisi sentimentil saya sebagai pembaca dan die hard fans. Mengapa dia berani berbagi sisi buruk manusia yang ada di dalam dirinya? Kalau saya tanya langsung ke Mas Sam, palingan dia bakal jawab, “Kenapa juga mesti takut?”. Saya setuju. Daripada kita menceritakan kebaikan-kebaikan kita, nanti dikiranya sombong atau dikira lagi kampanye, lagi. Dan mungkin saja tujuan Mas Sam menulis dengan jujur dan sinis seperti itu untuk menyadarkan kita bahwa (klise sekali) manusia tidak ada yang sempurna, makanya jangan terlalu ngoyo untuk jadi sempurna. Karena mau ngoyo sengoyo apa juga, kaga bakalan dah elu sempurne. Malah dengan berbagai kekurangannyalah kita disebut manusia.
Itu saran yang tersirat dari penulisan Mas Samuel. Kalau saran saya, kita ini hidup di dunia butuh keseimbangan, bukan? Anda bisa baik, saya seimbangkan, saya bisa jahat. Anda bisa jahat, saya tambahkan, saya bisa lebih jahat. Semua orang butuh menjadi jahat sekali-kali. Kenapa takut? Jahatlah selagi bisa, selagi mampu, dan selagi ada orang atau sesuatu yang bisa Anda jahati. Manusiawi kok kalo Anda berbuat jahat. Sekecil dan sebesar apapun. Wong yang jahat saja bisa berhasil, gimana yang baik?
Ke mana saja kau?
Walaupun puasa sudah mulai dari hari Senin, namun saya baru boleh melaksanakannya pada hari Kamis. Dan saya takut sekali pahala saya puasa tidak diterima atau batal lantaran sesaat adzan Subuh selesai dikumandangkan, saya menangis. Kali ini untuk alasan yang benar-benar memalukan. Ya, diri saya begitu memalukan!
Setelah sahur, saya menunggu adzan Subuh di depan tivi, saya melihat Ibu saya sedang menghitung lembaran uang Rp 50.000-an untuk biaya bayaran sekolah saya dan adik saya, Fargan. Yang belakangan saya ketahui ditambah dengan pembelian buku sekolah Fargan. Bukan jumlah yang sedikit buat saya. Tiba-tiba hati saya ngilu, dan memberi perintah ke mata untuk mengeluarkan air. Tapi ternyata ego diri ini terlalu tinggi sehingga saya berusaha keras menahannya, jangan sampai Ibu saya melihat saya menangis tiba-tiba. Sungguh bukan lucu.
Begitu saya yakin Ibu saya sudah naik ke atas, barulah. Tanpa diperintah, air yang dari tadi saya tahan-tahan keluar juga. Pikiran saya menjalar tak menurut. Setelah saya hitung-hitung, dua tahun saya belajar SMU memakan biaya bayaran sebesar 5 juta, belum ditambah uang jajan, buku, dan lainnya. Itu baru saya di SMU. Saya tidak sanggup bila harus menghitungnya sejak saya lahir, bahkan sejak 9 bulan saya masih di dalam perut Ibu. Mungkin bisa milyaran atau malah trilyun. Seketika itu juga saya merasa useless.
Ke mana saja saya ini? Ngapain aja sih saya selama ini? Berkali-kali ceramah dari uztadz-ustadzah, guru ngaji, guru sekolah keluar-masuk telinga ini, kenapa baru saya memahaminya sekarang? Dulu, saya yakin benar akan menjadi sukses dan berhasil, lalu hidup enak dan merawat orang tua saya, kelak mereka sudah makin tua. Habis itu mati, masuk surga. Tapi mengapa keyakinan itu sekarang tak sekuat dulu? Bagaimana kalau yang saya yakini itu tak terjadi? Saya pikir saya kuat. Ternyata saya masih rapuh, sangat.
Berjuta-juta bilangan rupiah? Tidak pernah saya persembahkan ke mereka berdua. Jangankan sejuta, seratus ribu pun tak pernah mereka terima dari saya. Tak sanggup saya. Yang ada pemberian mereka saya gunakan untuk yang sia-sia, kesenangan semata. Sudah berapa lembar hasil kerja Ayah saya yang saya buang-buang, saya bakar? Kapan saya bisa berhenti meminta? Kapan waktunya saya bisa memberi? Bisakah saya? Adakah waktu mempersilakan? Memang sekarang ini bukan waktunya saya memikirkan itu semua, sekarang tugas saya “Belajarnya yang bener ya,” seperti apa yang orang tua saya sering katakan. Tapi tak tahan lagi, saat itu juga saya memukuli kepala dan badan saya sampai puas. Tidak peduli pahala saya akan berkurang karena tidak bisa menahan emosi di saat berpuasa. Kemudian yang saya butuhkan bukan lagi penyesalan, tapi perubahan.
Subuh memanggil. Maaf terucap untuk mereka berdua. Tak lupa untuk Engkau, mohon ampun saya!
Selasa, 02 September 2008
Terima kasih, Karma
Well. Empat hari. Anggap aja ini sebagai rekor saya pacaran. Begitu saya menerima pesan singkat dari laki saya, saya sekejap tersenyum. Bener kan? Pasti ga lama-lama deh. Wong kapan kami mulai pacaran saja sudah tidak jelas. Mungkin karena selama ini saya selalu melihat dan menuntut hal dari yang jelas-jelasnya saja, saya pun butuh sesuatu yang tidak jelas. Dan nampaknya kebutuhan saya itu sudah terpenuhi.
Setelah tersenyum, ketidakmengertianlah yang saya pikirkan. Di pesan tersebut ada kata ‘menyakiti’ dan ‘membohongi’. Waw, percaya diri benar lelaki ini. Saya pikir dia tahu kalau dari awal kita cuma main-main saja. Tapi nampaknya dia beranggapan saya serius sama dia. Dan membohongi? Mau mencoba mengalahkan saya dalam hal ini? Wong saya ‘avatar’nya dalam berbohong. Kalau dia bisa membohongi saya, saya akan lebih membohongi dia, malah bisa sampai orang-orang dekatnya juga saya bohongi. Agak jahat memang, tapi itulah akibatnya mau coba-coba ngalahin saya. Karena saya paling tidak suka dibohongi. Bukan apa-apa. Saya merasa sayalah yang paling jago berbohong, tapi berani-beraninya ada yang bohongin saya.
Sayapun membalas pesannya dengan sejuta kebohongan yang lebih membohongi dari kebohongan yang katanya sudah ia lakukan terhadap saya. Awalnya saya ingin bertanya, bagian mananya yang dia bohong sama saya? Tapi takutnya dia akan lebih kaget kalau saya bilang, saya pun juga sudah membohonginya dari awal. Untungnya hubungan yang tidak jelas ini hanya berlangsung sebentar, dan untungnya juga saya belum boleh berpuasa. Jadinya saya tidak perlu takut pahala puasa saya akan berkurang hanya karena mengadu ahli bohong dengan laki saya itu. Yah, syukur-syukur kalau berlangsung lebih lama. Toh saya sebagai pihak yang tidak akan dirugikan. Yang ada dialah nantinya yang akan merasa rugi dan akhirnya berhenti membohongi saya. Kalaupun dia sudah berhenti membohongi saya, tak tentu juga saya akan berhenti membohonginya.
Semua hubungan membutuhkan kepalsuan, bukan? Hubungan saya sama orang tua saja sering diisi dengan kebohongan, apalagi dengan seseorang yang baru saya kenal, tidak ada hubungan darah pula. Sama Tuhan saja, jujur, saya sering berusaha membohonginya. Jangankan Tuhan, sama diri sendiri aja saya sering berbohong, apalagi yang lain-lain. Tapi bukan maksud saya menjelek-jelekan diri sendiri, karena nampaknya banyak juga orang yang sama seperti saya. Pernah berbohong terhadap diri sendiri, Tuhan, orang tua, anak, teman, tetangga, dan lainnya. Tak perlulah saya umbar semuanya juga. nanti para pembohong seperti saya berusaha berbicara jujur, seperti apa yang saya sedang lakukan dalam menulis tulisan ini, lalu akhirnya tak ada satu pun pembohong yang tinggal. Wah, akan hambar sekali sebuah hubungan tanpa kebohongan nantinya.
Dan bukan berarti saya bisa seenaknya membohongi orang. Saya (mudah-mudahan) tidak akan membohongi orang yang tidak pernah membohongi saya pula. Mungkin karena sudah ahli, naluri saya pun bekerja dengan baik dan dapat mengenali ciri-ciri orang berbohong. Kalau-kalau saya mendapati orang yang berbohong terhadap saya, saya pun jadi gemes dan tidak sabar membuat dia mengalami enaknya dibohongi. Karena dibohongi akan menimbulkan sensasi luar biasa, seperti marah, bingung, nangis, dendam, bahkan sampai bunuh diri. Betapa berbohong itu hebat, bukan? Makanya saya memilih untuk menekuni bidang ini.
Dan saya percaya karma. Buat saya karma selalu bekerja di dunia ini, di belahan manapun. Karena perbuatan saya itu, saya juga jadi sering dijenguk sama karma. Salah satunya, ya berakhirnya hubungan tidak jelas ini. Saya tahu saya juga pernah membohongi mantan laki saya dulu dengan cara seperti apa yang laki empat hari saya lakukan. Kemudian sekarang terjadilah kepada saya. Setiap karma yang datang ke saya, saya anggap sebagai peringatan. Bahwa selain berbohong, ada yang lebih hebat. Yang selalu terjaga dan memperhatikan sekecil apapun gerak-gerik saya, yakni Tuhan.
Terus kalau nanti ada yang ketemu sama si karma, bilangin makasih deh dari gue.
Rikcy Perosotan
Wew, hari ini penuh cerita berkat sepupu saya, si Ichonk. Karenanyalah saya bisa nyobain naik perosotan Atmostfear di Plaza fX, sekalian nonton dengan budget tidak lebih dari lima ribu rupiah ajah. Setelah saya selesai mencuci baju (saya makin ragu, saya anak apa babu? Hm..), Ichonk sms saya kalo dia punya karcis gratisan main Atmostfear di Plaza fX Senayan. Baiklah, selama modal ongkos saja, sayapun bersedia megantarnya. Eh saya baca lagi smsnya, walah.. Dia juga ngajak nonton. Dan makin ber-“Walah, walah..” ria begitu dia bilang mau bayarin saya nonton. Tancap! Mandi, ganti baju, dimodalin Ibu lima belas rebu, saya berangkat. Bahkan sisanya bisa buat posting tulisan ini. Haha! It feels just like a lucky bastard.
Sebenarnya kurang tepat juga Ichonk mengajak seseorang seperti saya untuk mencoba perosotan yang kecepatan maksimumnya sampai 25 km/jam. Wong saya naik kora-kora saja tidak berani. Beneran, saya malah sudah duduk di bangku perahu melayang tersebut, namun langsung kabur, tidak jadi berngilu-ngilu ria. Toh ga akan ada yang mengingat wajah saya. Dan memang saya tidak mengenal malu.
Begitu sampai di fX, kami langsung memantau bentuk perosotan yang akan kami turuni. Waduh, selain karena memang agak takut, ocehan Ichonk yang selalu bilang “Duh, berani ga ya gue? Deg-degan nih gue, Shel,” makin membuat saya mendadak males tanda kutip untuk mencoba menuruni Atmostfear. Tapi bangkit kembali keberanian saya saat melihat anak kecil permpuan bermata sipit bisa menaklukan tabung tersebut. Baiklah, saya bisa kok.
Alih-alih ga mau keliatan pengecut, saya pun mengajak Ichonk ke fX Platinum XXI. Berdasarkan saran saya, kami pun membeli karcis untuk menonton di studio 4, Wall-E. “14.40 ya, mba.” Saya tersenyum pada Ichonk. Untuk membunuh waktu selama satu jam, kami langsung inisiatif foto-foto. Emang beneran keren sih fX. Tiap lantainya ada kayak art-design gitu. Dan memang bukan kami saja yang norak unutk bernarsis bareng.
Kaki berteriak lelah, kami pun menuju ke XXI dan duduk sambil menguji keahlian saya, yakni menunggu. Entah kenapa kami ini mau tau saja dan sok tau sekali. Membicarakan penampilan orang-orang yang lewat di depan kami pun jadi topik pilihan. Wah, jauh beda sekali dengan saya yang hanya memakai kemeja dan tas punya Poncol. jeans diskonan, plus sepatu pinjam dari adik. Kebanyakan yang lewat juga seumuran saya, tanpa mengecek label di pundak mereka, mereka sudah terlihat ‘mahal’ sekali. Malah saya sempet nyeletuk, “Keliatan banget tajirnya, ya Chonk. Walau wajah ga berbicara. Haha.” Sadis banget. Akhirnya Ichonk nyerocos, menceritakan temannya yang ‘tajir-namun-wajah-tak-berbicara’ tapi dermawan. Karena mau-maunya ngebayarin Ichonk bersama tiga teman lainnya ke Dufan, makan, dan diantar sampai rumah pula, yang kata Ichonk setelah dihitung-hitung menghabiskan hampir setengah juta untuk seharian.
Begitu juga saat kami sudah ada di bangku penonton. Di baris depan kami ada seorang bapak bule nonton dengan 3 anaknya, yang satu laki-laki dan lainnya perermpuan. Saya yakin mereka bapak-anak karena saya mendengar anaknya yang lelaki memanggil orang tua botak tersebut dengan “Pa,...” Saya dan Ichonk langsung saling menoleh dan tersenyum bulus. “Kok ga mirip banget ya,Shel, anak sama bapak? Padahal kan bule gennya kuat biasanya.” Saya pun hanya mengangguk-angguk, “Ho-oh. Emaknya lagi di mana ya?” Saya pun mencoba berpikir kalau ibu dari tiga anak tersebut mungkin dulunya bekerja sebagai duta besar dan bertemu dengan bapak bule tersebut di negara tempat ia bekerja dan gen sang ibu lebih kuat dari gen si bapak bule, menghapus pikiran-pikiran buruk yang menghakimi keadaan anak-beranak tersebut.
“Seharusnya saya diajak membuat film ini juga.” Itulah yang ada di pikiran saya sekeluarnya dari studio. Wall-E benar-benar berhasil menyampaikan bahwa Bumi adalah tempat satu-satunya kita hidup dan kita semua harus menjaganya seperti dia sudah memberiakn seumber daya untuk kita karena untuk semua penonton, terutama untuk adik-adik kita yang memang menjadi sasaran utama film animasi ini. Yakni Bumi adalah tempat satu-satunya kita hidup dan kita semua harus menjaganya seperti dia sudah memberikan sumber daya untuk kita karena walaupun kita nantinya menemukan tempat lain, namun Bumilah tempat kita semua kembali. Tanpa banyak dialog, Wall-E mampu membuat saya dan penonton lainnya tertawa dan memahami adegan hanya dengan lagu yang dialun sepintas dan suara-suara robot yang tidak terlalu jelas namun selalu mebuat saya dan Ichonk berseru “Sumpah, lucu banget.” Dan saya harus membuat versi Indonesianya setelah saya nanti membuat film perang.
Sehabis menunggu Ichonk, kami langsung ke Atmostfear yang tak bisa saya hindari lagi karena berada tepat di depan pintu masuk XXI. Damn. Ketika saya sedang berpikir kapan saatnya mengatakan “Ayo, deh” ke Ichonk, saya yakin itulah saatnya begitu melihat seorang cowok yang melambai sedang bersiap-siap menuruni perosotan tersebut. Untungnya ada cowok itu, kalau tidak keberanian saya tidak akan timbul.
Well, begitu giliran saya, butuh tiga menit untuk meyakinkan diri untuk didorong mas-mas yang jagain. Kalau saja Ichonk tidak berteriak secempreng-cemprengnya hingga berdengung di telinga saya, mungkin tak perlu berlama-lama. Sumpah, begitu kencangnya Ichonk teriak sampai saya bisa mendengar orang di belakang saya berkata “Ya ampun,” ke orang di sebelahnya. Dan akhirnya diri ini merosot turun setelah saya berhasil membuat detak jantung saya normal.
Ternyata belum selesai penderitaan saya. Kepala saya jadi agak pusing lantaran helm yang saya pakai kegedean dan melorot dan harus menghadapi seorang mas-mas penjaga Atmostfear di lantai satu yang saya ragui dia 100% pria. Oke, tampilannya bisa mendapat rating “imut-seimut-cantengan-Bebek”, tapi cara ngomongnya itu lho... Kenapa kayak gitu??? Udah mana banyak nanya. Sesaat saya sampai di bawah, mas-mas tersebut langsung nanya “Perdana ya?”, padahal saya sedang kerepotan menyeimbangkan badan. Woy, gue lagi ribet bukannya bantuin, maen tanya-tanya ajee lu, mas. Dan abis kami ngobrol-ngobrol, ujungnya dia ngomong, “Mau main lagi ga? Ntar aku deh yang masukin. Tapi nanti aja, aku kan lagi puasa nih, belom makan. Abis buka deh. Mau ga?”. Saya dan Ichonk liat-liatan. “Kapan-kapan aja deh, mas,” kata Ichonk. “Ya udah, kalo gitu catet nomor aku aja.” ????
Kami langsung ninggalin mas-mas itu soalnya dia mesti ngebantuin orang yang baru aja selese merosot. Eh, ga taunya dia naik ke lantai 7 juga, tempat saya dan Ichonk mengambil barang yang dititip. Waduh. “Ya udah, plis save my number?” kata mas-mas itu, nyamperin kami berdua. “Kalo mau ke sini, telfon aku aja dulu, ya? Eh jangan lupa miskol ya..”. Kami ngangguk-ngangguk.
Saya : Lo simpen kontaknya apa, Chonk?”
Ichonk : Ricky perosotan.
Saya langsung ngakak. Apa kek, Ricky Atmostfear, Ricky sliding gitu? Ricky perosotan? Baiklah, tidak terlalu buruk.
Saya : Beneran ga tuh dia bisa gratisin kita?
Ichonk : Tau deh.
Saya : Gue bawa temen-temen gue aja yang banyak kalo gitu.
Ichonk : Emang niat gue gitu, bawa se-RT. Hahaha!! Mampus dah tuh si Ricky.
Saya : Jahat banget.
Ichonk : Siapa? Kita?
Saya : Elo.
Derai tawa licik kami membahana ke seluruh sudut plaza. Ya, saya tahu saya berlebihan. Tapi saya senang, walau sudah dua hari saya dianggurin laki saya. Sok unrechable dia. ;(