Saya baru saja membaca tulisan Mas Samuel Mulia di Kompas hari ini, yang menjadi artikel yang paling saya tunggu-tunggu tiap minggunya selain Cerpen dan Sajak-Sajak. Judulnya “Muna”. Di sana ia menceritakan bagaimana ia bisa dipanggil Muna oleh teman-temannya. Tak bedanya dengan saya, dan jadi merasa tidak sendirian, kalau bahwasannya Mas Samuel bermuka dua pula. Yah, walaupun saya samasekali tidak suka disebut muna, tapi lebih ke aspek kebohongannya saja. Orang bermuka dua berarti jago berbohong, tapi konteks yang saya pilih dalam hal berbohong bukanlah jenis yang bermuka dua. Melainkan, kebohongan-kebohongan yang saya lakukan untuk menutupi bahwa sebenarnya saya lemah dan labil. Ya, masalah ego. Saya tidak mau diangap lemah sama orang lain karena saya sendiri sudah menciptakan citra pada mereka kalau saya hidup bukanlah untuk dipanggil ’lemah’.
Dan saya lebih merasa tidak sendirian karena Mas Samuel juga tak ragu memaparkan kebulusan, kejahatan, keburukan, atau apapun maksudnya, yang ia lakukan berikut alasannya kenapa ia melakukannya. Yang akhirnya malah membuat pembaca malu dan berkata nyinyir dalam hati, “Wah, gue banget nih.” Lalu pembaca tersebut mulai mencoba menulis dan memaparkan secara jujur, seperti Mas Samuel. Haha, itu mah saya.
Buat saya, gaya penulisan Mas Sam itu sebuah pilhan yang mendobrak sisi sentimentil saya sebagai pembaca dan die hard fans. Mengapa dia berani berbagi sisi buruk manusia yang ada di dalam dirinya? Kalau saya tanya langsung ke Mas Sam, palingan dia bakal jawab, “Kenapa juga mesti takut?”. Saya setuju. Daripada kita menceritakan kebaikan-kebaikan kita, nanti dikiranya sombong atau dikira lagi kampanye, lagi. Dan mungkin saja tujuan Mas Sam menulis dengan jujur dan sinis seperti itu untuk menyadarkan kita bahwa (klise sekali) manusia tidak ada yang sempurna, makanya jangan terlalu ngoyo untuk jadi sempurna. Karena mau ngoyo sengoyo apa juga, kaga bakalan dah elu sempurne. Malah dengan berbagai kekurangannyalah kita disebut manusia.
Itu saran yang tersirat dari penulisan Mas Samuel. Kalau saran saya, kita ini hidup di dunia butuh keseimbangan, bukan? Anda bisa baik, saya seimbangkan, saya bisa jahat. Anda bisa jahat, saya tambahkan, saya bisa lebih jahat. Semua orang butuh menjadi jahat sekali-kali. Kenapa takut? Jahatlah selagi bisa, selagi mampu, dan selagi ada orang atau sesuatu yang bisa Anda jahati. Manusiawi kok kalo Anda berbuat jahat. Sekecil dan sebesar apapun. Wong yang jahat saja bisa berhasil, gimana yang baik?
Sabtu, 06 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
bener .. bener
bgitulah yg namanya hidup
salah itu wajar , bohong itu exceedly tolerable
Posting Komentar