Sabtu, 06 September 2008

Ke mana saja kau?

Seharusnya tulisan ini saya publikasikan pada hari Jumat, setelah melihat penjemputan sang ajal atas seekor kucing melalui sebuah mobil di perjalanan saya menuju warnet yang dimana akhirnya FD saya tidak terbaca di komputer tersebut.
Walaupun puasa sudah mulai dari hari Senin, namun saya baru boleh melaksanakannya pada hari Kamis. Dan saya takut sekali pahala saya puasa tidak diterima atau batal lantaran sesaat adzan Subuh selesai dikumandangkan, saya menangis. Kali ini untuk alasan yang benar-benar memalukan. Ya, diri saya begitu memalukan!

Setelah sahur, saya menunggu adzan Subuh di depan tivi, saya melihat Ibu saya sedang menghitung lembaran uang Rp 50.000-an untuk biaya bayaran sekolah saya dan adik saya, Fargan. Yang belakangan saya ketahui ditambah dengan pembelian buku sekolah Fargan. Bukan jumlah yang sedikit buat saya. Tiba-tiba hati saya ngilu, dan memberi perintah ke mata untuk mengeluarkan air. Tapi ternyata ego diri ini terlalu tinggi sehingga saya berusaha keras menahannya, jangan sampai Ibu saya melihat saya menangis tiba-tiba. Sungguh bukan lucu.

Begitu saya yakin Ibu saya sudah naik ke atas, barulah. Tanpa diperintah, air yang dari tadi saya tahan-tahan keluar juga. Pikiran saya menjalar tak menurut. Setelah saya hitung-hitung, dua tahun saya belajar SMU memakan biaya bayaran sebesar 5 juta, belum ditambah uang jajan, buku, dan lainnya. Itu baru saya di SMU. Saya tidak sanggup bila harus menghitungnya sejak saya lahir, bahkan sejak 9 bulan saya masih di dalam perut Ibu. Mungkin bisa milyaran atau malah trilyun. Seketika itu juga saya merasa useless.

Ke mana saja saya ini? Ngapain aja sih saya selama ini? Berkali-kali ceramah dari uztadz-ustadzah, guru ngaji, guru sekolah keluar-masuk telinga ini, kenapa baru saya memahaminya sekarang? Dulu, saya yakin benar akan menjadi sukses dan berhasil, lalu hidup enak dan merawat orang tua saya, kelak mereka sudah makin tua. Habis itu mati, masuk surga. Tapi mengapa keyakinan itu sekarang tak sekuat dulu? Bagaimana kalau yang saya yakini itu tak terjadi? Saya pikir saya kuat. Ternyata saya masih rapuh, sangat.

Berjuta-juta bilangan rupiah? Tidak pernah saya persembahkan ke mereka berdua. Jangankan sejuta, seratus ribu pun tak pernah mereka terima dari saya. Tak sanggup saya. Yang ada pemberian mereka saya gunakan untuk yang sia-sia, kesenangan semata. Sudah berapa lembar hasil kerja Ayah saya yang saya buang-buang, saya bakar? Kapan saya bisa berhenti meminta? Kapan waktunya saya bisa memberi? Bisakah saya? Adakah waktu mempersilakan? Memang sekarang ini bukan waktunya saya memikirkan itu semua, sekarang tugas saya “Belajarnya yang bener ya,” seperti apa yang orang tua saya sering katakan. Tapi tak tahan lagi, saat itu juga saya memukuli kepala dan badan saya sampai puas. Tidak peduli pahala saya akan berkurang karena tidak bisa menahan emosi di saat berpuasa. Kemudian yang saya butuhkan bukan lagi penyesalan, tapi perubahan.

Subuh memanggil. Maaf terucap untuk mereka berdua. Tak lupa untuk Engkau, mohon ampun saya!

Tidak ada komentar: