Didasari atas: pertama; rasa penasaran, karena waktu kecil saya pernah mencoba membacanya namun tidak mengerti dan juga dilarang Ayah, kedua; saya sedang tertarik tentang ilmu filsafat walau banyak ga ngertinya, ketiga; mencari kerjaan mengisi waktu luang saat puasa selain tidur, saya diam-diam mengambil buku Pemikiran Karl Marx karya Franz Magnis-Suseno dari rak buku Ayah saya. Membacanya pun diam-diam, ngumpet dari Ayah, takut-takut saya masih tidak boleh mebacanya.
Agaknya sekarang saya mulai mengerti mengapa Soekarno memperbolehkan dan mendukung keberadaaan komunisme di negara ini dalam wujud Partai Komunis Indonesia. Bahwa di beberapa negara, komunisme-sosialisme bisa meratakan berbagai aspek negara dalam ukuran yang sama sehingga tidak lagi tercipta bentuk-bentuk kejahatan dan ketidakadilan. Meski pada akhirnya Soekarno harus menerima kenyataan bahwa komunisme tidak dapat hidup, tumbuh ataupun bertahan di negara republik demokratis ini.
Komunisme jarang bertahan lama di suatu negara, di mana dahulu sekitara akhir abad ke-19 sebagian besar negara di dunia belum memiliki sisetem pemerintahan yang pasti. Meski pada saat dianut komunisme menawarkan semua kerataan di seluruh aspek sosial, komunime terlupakan seiring berjalannya waktu dan bermunculannya ideologi-ideologi yang lebih demokratis sebagai landasan sebuah negara. Karena pada kodratnya manusia itu tidaklah sama dan malah karena perbedaan itulah kita disebut manuisa dan bisa saling melengkapi.
Di dalam buku ini juga mejelaskan tokoh-tokoh yang mempengaruhi cara berpikir Marx. Dari kesepuluh tokoh, yang paling saya sukai adalah Pierre-Joseph Proudhon, seorang sosialis Perancis. Menurut saya, pemikiran Proudhon lebih “manusiawi” dan lebih masuk akal dibanding yang lainnya. Dia tidak menyukai bentuk pemberontakan apapun yang sering dielu-elukan oleh sosialis lainnya. Menurutnya, buruh atau rakyat kecil pekerja masih boleh memiliki hak milik pribadi, namun kaum borjuis harus melepaskan hak mlik pribadi mereka yang merupakan hasil penghisapan.Dia mengharapkan kebebasan buruh muncul dari pengorganisasian kaum mereka seperti dengan adanya koperasi, bukan dengan pemberontakan.
Senin, 15 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
pemikiran yang bagus kawan, menurut pandangan awam saya!
Lanjutkan!
pazisme.blogspot.com
Posting Komentar