Senin, 24 November 2008

setengah jawaban

gue ingin merespon tentang protesnya fpi surakarta atas pengadaan syuting film “lastri” di sana. gue liat di tv one, di apa kabar indonesia, choiril, pembicara dari pihak fpi mengatakan tidak mengizinkan kalo daerahnya dijadiin tempat syuting film itu setelah membaca sinopsisnya. ini menyebabkan proses pembuatan film mandet, harus dihentikan (sementara). dan pastinya biaya produksi membengkak, merugikan si produser, marcella zalianty yang juga hadir di acara itu bareng eros djarot sang sutradara dan rosihan anwar, sejarawan. itu dikarenakan, menurut fpi film “lastri” berkesan ingin mengajarkan komunisme ke masyarakat. dia bilang, berseni itu kan tidak harus ada pki-pki-nya. dia ngomong panjang lebar di telepon pake bawa-bawa tap. mpr segala, tapi intinya yang bisa gue tangkep itu doang.

gue langsung komentar “beu elah! repot banget sih.” buat gue alasan di balik fpi meminta syuting dihentikan kurang jelas. berkesan mengajarkan komunisme kepada masyarakat? mengajarkan gimana? apa di dalam film tersebut dijumpai doktri-doktrin yang bersifat menghasut? setau gue, cerita “latri” itu kan cinta-cintaan, dan latarnya itu tahun 1965, di mana emang lagi kasus pki-pki gitu. dan gue rasa 1965 itu hanya sebagai latar aja, ga lebih. ibaratnya yaa cuma jadi bumbu aja biar beda sama film roman yang udah ada. terus, kepada masyarakat? masyarakat yang mana? emangnya semudah itu masyarakat bisa beralih ke paham komunisme, hanya dengan dipertontonkan sebuah film? toh unsur pki dalam film ini juga cuma selepehan doang. serendah itukah intelektualitas masyarakat kita sekarang? gue ga ngerti. apa sebenarnya yang dibela oleh fpi? mereka ga berhak dong, melakukan protes ini. kata bokap, mereka itu udah melakukan yang namanya ‘mengadili proses’, dan itu ga boleh. sama aja kalo kita lagi mau nendang bola, tapi pas kaki udah siap diangkat, pelatih kita udah tereak-tereak “woy! salah, bego!” (berdasarkan pengalaman pribadi). kita kan sma-sama belom tau, apa tendangannya bakal meleset atau malah bisa gol. padahal udah ancang-ancang dan tenaga udah kekumpul di kaki, eh... ditereakin begitu. bete kan? ngerti banget gue kenapa marcella kebanyakan diem sepanjang acara berlangsung.

dan yang gue pertanyakan, kenapa fpi yang maju? ini cuma meninggalkan kesan orang Islam penakut sekali. kenapa bukan perwakilan umat agama lain yang memajukan diri? atau kenapa tidak memprotes atas nama pribadi? terkesan orang-orang Islam suka protes. yang suka ngancurin club-club malam siapa? fpi. yang suka memporak-pondakan tempat orang mabok siapa? fpi. wah.. katanya semua agama baik, tapi kok yang ini demen banget bawa-bawa balok kayu terus mecahin kaca ya? kalo ga ada kaca, orang dihantem juga. udah gitu bertindak atas nama kelompok. iman orang kan beda-beda dan ga ada yang bisa ngatur. perek kalo ga ada yang make, juga ga bakalan kerja. bukan tempatnya yang dibasmi, tapi orangnya. kalo club yang satu udah diancurin, mereka kan bisa pindah tempat. dan orang-orangnya juga jangan dihakimi secara kekerasan. kalo ngaku kita semua saudara, yaa tuntunlah mereka. apalagi kalo fpi merasa sudah bisa bertindak paling benar. ya ajarkan mereka agar bisa sebenar fpi. kenapa harus anarkis sih? ini cuma ninggalin kalo mereka bawannya di mana-mana tuh rusuh doang. demokrasi sih, demokrasi. gue juga bisa kalo ada orang yang ngelakuin sesuatu yang menurut gue salah, langung gue bacok. tapi sayangnya gue ga dilahirin di zaman jahiliyah, dan malah dilahirin jauh setelah john locke udah bisa mebagi-bagi lembaga hukum di inggris sana.

mungkin inilah yang mebuat gue ragu. ajaran kita sudah rancu. kita hidup berabad-abad setelah kematian utusan yang terakhir. orang-orang untuk tempat bertanya pun sering kali ngasih jawaban yang beda-beda. mungkin untuk orang-oran lain yang beragama, pilihan untuk menjadi agnostik, ateis, komunis, atau apalah, itu egois. mereka anggap para penganut paham itu tidak mau terikat, tidak ingin disalahkan, tidak ingin diatur-atur atau dibudaki agama. tapi gue hanya ingin netral. tidak mau dituding berpihak pro atau kontra, benar atau salah, baik atau jahat. karena pandangan orang-orang tidak pernah sama meski cuma sebesar biji semangka. si pro keukeuh kalo yang dia anggap benar, memang benar. di pihak lain, si kontra tereak-tereak “salah!” atas apa yang dibilang benar sama si pro dan menunjukkan apa yang dia anggap benar buat dirinya sendiri. apa jadinya kalo ternyata yang dibilang pro itu salah, sedang yang dibilang kontra itu benar? resiko seperti itulah yang gue hindari ketika tidak atau belum bisa menentukan mana yang benar atau mana yang salah. karena gue masih belajar untuk memilih.

Tidak ada komentar: